JAWAB: Keluarga nabi dan sahabat sama mulianya. Yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Umat Islam wajib menghormati, memuliakan, meneladani, dan mendoakan keluarga dan sahabat nabi.
Sahabat Nabi adalah orang yang pernah bertemu Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup walaupun sebentar, dalam keadaan beriman, dan mati dengan tetap membawa iman. Dengan pengertian itu, maka semua sahabat itu baik. Kaum munafik, apalagi kafir, semasa Nabi, bukan sahabat.
”Orang-orang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah : 100).
Dari Abu Hurairah ra, berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabat, janganlah kalian mencaci sahabatku! Demi Dzat Yang Menguasaiku, andaikata salah satu di antara kalian menafkahkan emas sebesar Gunung Uhud, maka (pahala nafkah itu) tidak akan menyamai (pahala) satu mud atau setengahnya dari (nafkah) mereka.” (HR Muslim).
Perang Jamal (Perang Unta) bukan permusuhan antara Ali bin Abi Thalibl dan Siti Aisyah. Saat itu Ali berusaha mencegah berkobarnya peperangan sesama kaum Muslim. Ali sangat menghormati Siti Aisyah dan melindungi keselamatannya saat peperangan. Ali mempersiapkan segala sesuatu yang dipandang perlu guna menjamin keamanan dan keselamatan Ummul Mukminin itu selama dalam perjalanan pulang ke Madinah.
Lagi pula, Siti Aisyah bukan bermaksud memerangi Ali atau sebaliknya. Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya Siti Aisyah ra tidak keluar untuk berperang, melainkan dengan tujuan untuk mendamaikan kaum Muslimin. Dia mengira bahwa keluarnya itu akan membawa kemaslahatan bagi kaum Muslimin. Namun demikian, tampak olehnya setelah itu bahwa seandainya ia tidak keluar, maka hal itu lebih baik. Karena itu, jika ia teringat keluarnya ke (Bashrah) itu ia menangis hingga membasahi kerudungnya” (Minhajus Sunnah).
Qais bin Hazim mengisahkan, tatkala Aisyah berangkat menuju medan perang, ia menyatakan ingin kembali. Orang-orang yang menyertainya berkata, “Tidak, engkau harus meneruskan perjalanan agar kaum Muslimin dapat melihatmu, mudah-mudahan melalui usaha ini Allah mendamaikan kedua belah pihak yang berseteru!”
Perang Jamal terjadi akibat provokasi dan pengkhianatan kaum munafiquun yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’. Jadi, sekali lagi, Ali dan Aisyah tidak bermusuhan, tidak pula berperang. Keduanya justru korban kaum munafik yang haus kekuasaan, pasca terjadinya pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan. Wallahu a’lam.*
Post a Comment