Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Sponsored

Showing posts with label Amal. Show all posts
Showing posts with label Amal. Show all posts

Tuesday, November 13, 2012

Allah SWT Selalu Mengawasi Kita

Suatu hari seorang Habsy datang kepada Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, saya telah melakukan banyak dosa. Mungkinkah tobat saya bisa diterima?" Nabi menjawab, "Ya."

Kemudian sang Habsy berkata, "Wahai Rasulullah, setiap saya melakukan dosa, adakah Tuhan benar-benar melihatnya?" "Ya," jawab beliau. Sang Habsy pun melontarkan pekikan dan kemudian jatuh tak sadarkan diri.

Sebelum seseorang benar-benar yakin akan kenyataan bahwa ia selalu berada di dalam pengamatan Allah, tidak mungkin ia bertindak di jalan yang benar.

Seorang Syaikh suatu kali mempunyai seorang murid yang ia sayangi lebih dari yang lain, sehingga membangkitkan rasa iri mereka. Suatu hari sang Syaikh memberi masing-masing muridnya seekor unggas dan memerintahkan mereka untuk pergi dan membunuhnya di suatu tempat yang tak ada yang bisa melihat.

Sesuai dengan itu, setiap muridnya membunuh unggasnya di tempat yang tersembunyi dan membawanya kembali, kecuali murid Syaikh yang paling disayanginya itu. Ia membawa kembali unggas itu dalam keadaan hidup seraya berkata, "Saya tak bisa menemukan tempat seperti itu, karena Allah selalu melihatku di mana-mana."

Sang Syaikh pun berkata kepada muridnya yang lain, "Sekarang kamu tahu tingkatan anak muda ini. Ia telah mencapai tingkat selalu mengingat Allah." (Sumber: Kimia Kebahagiaan/The Alchemy of Happiness karangan Imam Al-Ghazali).*

Read More »
9:01 PM | 0 comments

Thursday, March 15, 2012

Seorang Mukmin, Sedikit Bicara dan Banyak Beramal

Imam Musa bin Jakfar as berkata: "…Wahai Hisyam! Rasulullah Saw bersabda, ketika kalian melihat seorang mukmin diam, maka dekati dia.Karena dia akan mengemukakan hikmah dan orang mukmin yang sedikit berbicara maka dia banyak beramal sedangkan orang munafik banyak berbicara sedikit beramal."

Ayatullah Mojtaba Tehrani menjelaskan hadis tersebut dan mengatakan, "Ketika kita melihat seorang mukmin yang cenderung diam, maka kita dianjurkan untuk mendekati dia karena orang mukmin seperti ini hanya mengatakan kebenaran yang juga berarti hikmah."

"Selanjutnya Rasulullah menyifati orang mukmin dengan lebih sedikit berbicara dan banyak beramal. Yand dimaksud adalah bahwa orang mukmin itu sedikit mengemukakan hal-hal baik akan tetapi lebih banyak melakukan kebajikan. Pada intinya orang mukmin itu sedikit berbicara tapi tidak dari sisi amal, karena paling banyak beramal."

"Sebaliknya, adalah orang munafik, mereka bukan saja banyak berbicara melainkan juga sedikit beramal. Dengan demikian orang mukmin tidak memisahkan antara ucapan dan amalnya, keduanya dimasukkan dalam amalnya. Karena pada hakikatnya ini semua adalah amal manusia yang akan tercatat dan dihisab kelak. Oleh karena Rasulullah menilai orang mukmin itu pendiam, tidak banyak berbicara, karena ucapan dan apa yang dilakukannya termasuk dalam amalnya."(IRIB Indonesia)

Read More »
12:52 AM | 0 comments

Friday, September 23, 2011

Ikhlas Itu Hanya Mengharapkan Ridha Allah SWT

Ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal ibadah oleh Allah SWT, selain ilmu dan sesuai dengan sunah Rasulullah Saw. Ikhlas adalah amalan hati ('amaliyah qolbiyah). Orang yang ikhlas semata-mata mengharapkan keridhoan Allah SWT, tidak berharap pujian atau penghargaan dari manusia, bahkan amal ibadahnya ia sembunyikan agar tidak diketahui manusia.

"Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yunus:105).

“Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata.” (HR Abu Daud dan Nasa’i).

"Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al-An’am:162).

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayinah: 5).

“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang ikhlas beramal, seperti sedekah dan dzikir tanpa ada keinginan dilihat atau dipuji manusia, termasuk kelompok yang dilindungi Allah SWT di akhirat.

"Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungannya pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan Allah. (1) Imam yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, (3) seorang pria yang hatinya terikat dengan masjid-masjid, (4) dua orang pria yang saling mencintai karena Allah, mereka berdua berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, (5) seseorang yang diajak untuk berzina oleh seorang wanita yang berkedudukan dan cantik namun ia berkata "Sesungguhnya aku takut kepada Allah", (6) seseorang yang bersedekah lalu ia sembunyikan hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan (7) seseorang yang berdzikir mengingat Allah tatkala bersendirian maka kedua matanya pun meneteskan air mata" (HR. Muslim). Wallahu a'lam.*

Read More »
10:19 AM | 0 comments

Friday, June 10, 2011

Rutin Beramal Meski Sedikit Disukai Allah SWT

Setiap orang menginginkan kehidupan yang baik. Islam mengajarkan kepada umatnya, kehidupan yang baik itu diperoleh dengan iman dan amal kebaikan (amal saleh atau amal ibadah). Allah SWT menjanjikan:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS. An-Nahl:97).

Amal ibadah/kebaikan harus dilakukan terus-menerus, rutin, sepanjang waktu. Tidak sesekali, misalnya hanya bulan Ramadhan. Seorang ulama mengatakan, sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang yang saleh adalah orang yang rajin ibadah sepanjang tahun.

Sahabat Nabi Saw, ’Alqomah, pernah bertanya pada Sitiu ’Aisyah mengenai amalan Rasulullah Saw, ”Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab, ”Beliau Saw tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (ajeg).”

Masih dari ’Aisyah, Nabi Saw bersabda, ”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (terus-menerus) walaupun sedikit.”

Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, ”Yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah agar kita bisa pertengahan dalam melakukan amalan dan berusaha melakukan suatu amalan sesuai dengan kemampuan. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin dilakukan walaupun itu sedikit.”

Hasan Al-Bashri berkata: ”Wahai kaum muslimin, rutinlah dalam beramal, rutinlah dalam beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang beramal selain kematiannya… Jika syaithon melihatmu terus-menerus dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithon melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithon pun akan makin giat menggodamu.” Wallahu a’lam.*

Read More »
4:33 AM | 0 comments

Tuesday, May 31, 2011

Kemuliaan Seseorang Ditentukan Amalnya

Jangan merasa bangga dan merasa terhormat dengan kekayaan, ketampanan, kecantikan, pangkat, jabatan, atau kedudukan tinggi, karena semua itu tidak dilihat oleh Allah SWT. Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan, kekayaan, atau pangkat, namun oleh iman, amal saleh, akhlak, dan ketakwaannya.

Apalagi, kekayaan, keelokan rupa, dan pangkat-jabatan dapat membuat manusia takabur (sombong), angkuh, dan memandang rendah orang lain yang dilarang Islam.  “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat takabur walalaupun hanya sebesar biji sawi”(HR. Muslim). “Takabbur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain” (HR. Muslim).

Allah SWT menegaskan, manusia paling mulia adalah yang paling bertakwa kepada-Nya. "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa" (QS:Al Hujurat:13).

Allah SWT pun tidak memandang rupa dan harta, tapi melihat hati dan amal kita. “Sungguh Allah tidaklah melihat kepada rupa dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat hati dan amalan-amalan kalian.” (HR. Muslim).

“Kemuliaan seseorang adalah pada agamanya, harga dirinya adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah ahlaknya. (HR.Ahmad).

“Tidak ada keutamaan orang Arab atas orang selainnya dan tidak pula da keistimewaan atas orang Non Arab atas orang Arab. Tidaklah ada keutamaan antara orang berkulit merah dengan orang berkulit hitam, dan tidak pula ada keutamaan orang berkulit hitam dengan orang berkulit merah, kecuali ketakwaan.” (HR. Ahmad).

Nabi Saw pernah berkata kepada Abu Dzar Al-Ghifari: “Perhatikanlah…! Engkau tidaklah lebih baik dari orang berkulit merah atau yang berkulit hitam kecuali bila engkau mengunggulinya dengan ketakwaan.” (HR. Ahmad).

Ibnu Taimiyyah berkata: “Keutamaan yang hakiki adalah berasal dari ittiba’ kepada risalah yang Allah utus Muhammad dengannya berupa iman dan ilmunya baik secara lisan maupun batin. Setiap manusia yang iman dan ilmunya lebih mapan, maka dia lebih utama.”

Selain itu, derajat kemuliaan seseorang juga dapat dilihat dari sejauh mana dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain. “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling bermamfaat bagi manusia lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).

TIDAK sedikit orang kaya justru ternyata hina-dina, karena kekayaannya didapatkan secara tidak halal, korupsi misalnya, atau menggunakan hartanya tidak di jalan Allah SWT, bahkan digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya.

Seorang mukmin yang baik, akan mendapatkan kekayaan dengan cara halal, lalu mengeluarkan zakatnya diiringi infak dan sedekah untuk membersihkan hartanya dari hak orang lain, menunjukkan rasa syukur kepada Allah, serta menggunakan hartanya sebagai sarana beribadah kepada-Nya. Dengan begitu, hartanya menunjang kemuliaan di sisi Allah karena iman dan amal salehnyadengan hartanya tersebut.

Tidak sedikit orang berpangkat tinggi, berkedudukan terpandang, atau menjadi pejabat negara --dengan gaji dan fasilitas dari uang negara atau uang rakyat tentunya, namun ia ternyata hina-dina kerena menyalahgunakan kekuasaan, korup, atau tidak menjalankan tugasnya sebagai pejabat negara yang harus melayani dan menyejahterakan rakyatnya.

Sebaliknya, jika ia seorang mukmin yang berian dan bertakwa, ia akan melaksanakan amanah itu dengan baik, melayani rakyat (bukan malah minta dilayani) dan menyejahterakan rakyat.  Dengan melaksanakan tugas sebaik-baiknya, jabatan yang ia emban pun menunjang kemuliaanya karena iman dan takwanya membuat dia menjadi pejabat yang amanah.

Jadi jelas, kemuliaan itu sumbernya dari dalam diri, yakni iman, takwa, atau akhlak. Bukan dari tampak luar. Wallahu a’lam. (Mel/Pusdai.com).*

Read More »
4:41 AM | 0 comments