Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Sponsored

Showing posts with label Dakwah. Show all posts
Showing posts with label Dakwah. Show all posts

Friday, June 22, 2012

Mari, Menulis! Dakwah Bil Qolam

menulisMari, menulis! Tulislah kebenaran dan kebaikan yang kita dengar di pengajian atau pelatihan, lalu sebarkan di status media sosial atau di blog! Dengan begitu, kita pun telah berdakwah (bil qolam/dengan tulisan).

Rasulullah Saw bersabda: "Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir…” (HR. Muttafaqun 'alaih). Maka, materi sebuah pengajian/pelatihan pun akan dinikmati oleh mereka yang tidak bisa hadir.

Rasul juga bersabda: “Qoyyidul 'ilma bilkitabi” ( قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ ), Ikatlah ilmu dengan tulisan! (HR. Thabrani dan Hakim). "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya," kata Ali bin Abi Thalib. "Tulisan adalah tamannya para ulama!”

Dengan begitu, ilmu kita akan "abadi" karena masih bisa diakses kapan saja dan di mana saja, bahkan oleh siapa saja jika tulisan itu kita sebar di media massa atau di media sosial. Wallahu a'lam. (Mel/ddhongkong.org).*

Read More »
1:19 PM | 0 comments

Thursday, January 12, 2012

Lemah-Lembut dalam Dakwah

Islam mengajarkan umatnya agar bersikap lemah-lembut dalam berdakwah atau mengajak kebaikan.  Rasulullah Saw dikenal kelemah-lembutannya dalam mengemban risalah Islam. Karena sikap lemah-lembut beliau itu pula Islam memiliki daya tarik sangat kuat, sebagaimana diabadikan dalam Al-Quran:

“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Qs. Ali Imran: 159).

Bahkan, menghadapi orang seburuk Fir'aun pun, Allah Swt memerintahkan sikap lemah-lembut.

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut.” (QS. Thaha:43-44).

Lemah-lembut sama sekali bukan kelemahan. Orang yang lemah-lembut sesungguhnya memiliki wibawa yang besar. Ia akan disegani. Kelemah-lembutan yang sejati selalu diikuti oleh kebajikan kesabaran dan penguasaan diri.

Orang lemah-lembut akan memiliki pula kebajikan kekuatan, dan keberanian yang tak tergoncangkan. Ia seperti aliran air yang tenang, tetapi dapat mengikis dan menghaluskan batu sekasar apa pun.

“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Qs. Ali Imran: 159).

“Sesungguhnya tidaklah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu melainkan ia akan memperindahnya dan tidaklah kelemah-lembutan itu dicabut dari sesuatu, melainkan akan memperburuknya.” (HR. Muslim)

“Barang siapa yang terhalangi dari bersikap lemah lembut, maka dia telah terhalang dari seluruh bentuk kebaikan.” (HR. Muslim). Wallahu a'lam.  (Abu Faiz).*

Read More »
3:54 AM | 0 comments

Wednesday, September 28, 2011

Bagaimana Penceramah Yang Cari Popularitas?

Bagaimana ya tadz, jika seorang penceramah agama, hanya mau ceramah jika dibayar tinggi atau punya niat lain? Benarkah banyak penceramah (da’i) yang Cuma cari popularitas?

JAWAB: Kita berprasangka baik (husnuzhan) saja. Para penceramah tentunya berdakwah secara ikhlas karena Allah, demi syiar Islam. Jika memang ada yang mau ceramah jika dibayar tinggi, artinya ia punya motivasi lain. Biarlah itu urusan yang bersangkutan dengan Allah SWT.

Demikian pula jika ada da’i yang mencari popularitas, itu urusannya dengan Allah SWT. Yang jelas, dakwah adalah kewajiban semua Muslim, terutama Muslim yang dianugerahi pemahaman ilmu agama oleh Allah SWT.

Hamdun bin Ahmad pernah ditanya: Mengapa ucapan-ucapan para salaf (generasi ulama terdahulu) lebih bermanfaat daripada ucapan-ucapan kita? Beliau menjawab: Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa, dan mencari ridha Ar-Rahman (Allah SWT), sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri, mengejar dunia, dan mencari ridha  manusia!

Ulama generasi salaf berdakwah, memberi nasihat, atau ceramah agama dengan ikhlas, tanpa bayaran, tanpa memasang tarif. Dampaknya, nasihat mereka efektif, berdampak, dan diingat hingga generasi Islam masa kini.

Dengan demikian , jila ada ulama, da’i, penceramah, dan umumnya umat Islam masa kini, yang memberi nasihat agama (ceramah) secara tidak ikhlas, ada niat demi kemuliaan diri, mengejar dunia, dan mencari ridha manusia, atau “karena dibayar”, tidak berdampak dan takkan mampu mengubah akhlak masyarakat.

Al Imam Ibnu Rajab menjelaskan, orang yang menampakkan ucapan dan perbuatannya kepada manusia perbuatan yang baik, tetapi ia mempunyai maksud mencapai tujuan yang buruk, lalu dipuji oleh manusia disebabkan perbuatan baik yang ia tampakkan padahal mempunyai tujuan yang buruk, lalu dia gembira dengan pujian manusia, maka orang tersebut diancam oleh Allah Ta’ala dengan adzab yang sangat pedih.

“Janganlah kamu sekali-kali menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” [QS. Ali Imran:188]. Wallahu a’lam.*

Read More »
5:28 AM | 0 comments

Tuesday, April 12, 2011

KEWAJIBAN MUSLIM TERHADAP AGAMANYA

Mengacu pada QS. Al-'Ashr, ulama menyebutkan ada 5 kewajiban kaum Muslim terhadap agamanya (Islam): Iman, ilmu, amal, dakwah, dan jihad. Mengimani Islam, mendalami ilmunya, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan membelanya.

Dakwah dan jihad (bela Islam) tidak mesti selalu dengan terjun langsung seperti para da'i dan mujahid di medan juang, tapi juga dengan membantu persiapan dan dukungan moral & material/dana kepada lembaga-lembaga dakwah dan jihad fi sabilillah.

“Barangsiapa yang membantu orang yang berjuang, maka sesungguhnya dia telah berjuang. Dan barangsiapa yang menanggung keluarganya dengan kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berperang” (HR Bukhari & Muslim).

Berjuang mendakwahkan dan membela Islam bisa dilakukan dengan ragam cara, dengan harta, jiwa, juga lisan.

"Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa kalian dan lisan kalian" (HR Abu Daud dan Al-Hakim dari Anas). Wallahu a'lam.*

Read More »
11:57 AM | 0 comments

Friday, November 26, 2010

Membantu Amaliah Dakwah dan Jihad

Membantu Muslim Palestina yang tengah berperang melawan Israel tidak mesti dengan turut bertempur di sana, tapi bisa juga dengan doa, dukungan moral, dan bantuan dana (logistik) atau mengurusi keluarga korban. Kita dinilai turut berperang.

Kita juga dinilai turut berdakwah dan berjihad, dengan memberi dukungan moral dan dana, juga bantuan tenaga dan pemikiran, kepada lembaga-lembaga dakwah atau mujahidin fi sabilillah lainnya. Maka, berilah dukungan dalam bentuk apa pun, kepada mereka yang berjuang menegakkan agama Allah di muka bumi ini.

“Barangsiapa membantu persiapan orang yang berperang (di jalan Allah) maka ia (termasuk) ikut berperang, dan barangsiapa membantu mengurusi keluarga orang yang berperang, maka ia pun (juga) termasuk ikut berperang” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam.*

Read More »
1:47 AM | 0 comments

Tuesday, June 15, 2010

Kenapa Khotbah Jumat Suka Lama?

Pa ust, apakah ceramah dan khotbah sama? Kenapa pada jum'atan khotbhnya lama-lama? 085722279XXX

JAWAB: Khotbah Jumat sama dengan ceramah, tepatnya monolog, karena selama khotbah berlangsung jamaah tidak boleh berbicara. Khotbah bagian dari prosesi ibadah shalat Jumat. Khotib pun tidak boleh "ngebodor" (humor) jika sedang khotbah, beda dengan ceramah selain khotbah.

Khotib yang khotbahnya lama, mungkin ia khilaf/lupa terhadap pesan Rasulullah Saw dan ”terlena” dengan ceramahnya sendiri. Rasulullah memerintahkan para khotib untuk menyampaikan khotbah secara singkat dan memperpanjang bacaan (ayat Quran) dalam sholat.

”Sesungguhnya lamanya shalat seseorang dan singkatnya khotbah itu adalah membuktikan mahirnya agama (kealiman) seseorang. Oleh karena itu, perpanjanglah shalat dan persingkatlah khotbah” (HR. Muslim).

“Nabi Saw tidak memanjangkan nasihatnya pada hari Jumat. Beliau hanya memberikan amanah-amanah yang singkat dan ringkas” (H.R. Abu Dawud).

Dalam perspektif komunikasi, khususnya teknik public speaking, pembicaraan panjang –apalagi monoton dan tidak fokus, sangat tidak efektif, sulit dipahami, dan tidak disukai audiens. Akibatnya, komunikasi pun bisa gagal; pesan tidak sampai kepada khalayak. Jadinya, khotbah berlama-lama bisa ”mubazir” karena jamaah tidak sanggup menyerap materi yang disampaikan, bahkan mereka mengantuk dan tertidur.

Para ahli public speaking mengingatkan, “One of the worst mistakes you can make as a public speaker is talking too long.” Kesalahan terburuk public speaker (penceramah, khotib) adalah berbicara terlalu lama.” Wallahu a’lam.*

Read More »
4:29 AM | 0 comments