Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Sponsored

Showing posts with label Kamus Islam. Show all posts
Showing posts with label Kamus Islam. Show all posts

Monday, April 16, 2012

Asmaul Husna

Asmaul Husna secara harfiyah artinya "nama-nama yang baik". Asmaul Husna adalah istilah yang merujuk kepada nama-nama, gelar, sebutan, sekaligus sifat-sifat Allah SWT yang indah lagi baik, sebagaimana firman-Nya:

"Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai asmaa'ul husna (nama-nama yang baik)" (Q.S. Thaa-Haa:8).

"Katakanlah (olehmu Muhammad): Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa'ul husna (nama-nama yang terbaik)..." (Q.S Al-Israa': 110)

Jumlah Asmaul Husna yakni 99 sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi, diperkuat dengan hadits riwayat Bukhari.

Umat Islam dianjurkan berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu. "Allah memiliki Asmaul Husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu..." (QS. Al-A'raaf : 180).

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata Nabi Muhammad Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah Swt mempunyai 99 nama, yaitu seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya (menghafal seluruhnya) masuklah ia kedalam surga" (HR. Bukhari).

Ke-99 Asmaul Husna tersebut adalah sebagai berikut:

































































































































































































































































































































































































































































































































































































































No.NamaArabIndonesia
AllahاللهAllah
1Ar RahmanالرحمنYang Maha Pengasih
2Ar RahiimالرحيمYang Maha Penyayang
3Al MalikالملكYang Maha Merajai/Memerintah
4Al QuddusالقدوسYang Maha Suci
5As SalaamالسلامYang Maha Memberi Kesejahteraan
6Al Mu`minالمؤمنYang Maha Memberi Keamanan
7Al MuhaiminالمهيمنYang Maha Pemelihara
8Al `AziizالعزيزYang Maha Perkasa
9Al JabbarالجبارYang Memiliki Mutlak Kegagahan
10Al MutakabbirالمتكبرYang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11Al KhaliqالخالقYang Maha Pencipta
12Al Baari`البارئYang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13Al MushawwirالمصورYang Maha Membentuk Rupa (makhluk-Nya)
14Al GhaffaarالغفارYang Maha Pengampun
15Al QahhaarالقهارYang Maha Memaksa
16Al WahhaabالوهابYang Maha Pemberi Karunia
17Ar RazzaaqالرزاقYang Maha Pemberi Rezeki
18Al FattaahالفتاحYang Maha Pembuka Rahmat
19Al `AliimالعليمYang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20Al QaabidhالقابضYang Maha Menyempitkan (makhluk-Nya)
21Al BaasithالباسطYang Maha Melapangkan (makhluk-Nya)
22Al KhaafidhالخافضYang Maha Merendahkan (makhluk-Nya)
23Ar Raafi`الرافعYang Maha Meninggikan (makhluk-Nya)
24Al Mu`izzالمعزYang Maha Memuliakan (makhluk-Nya)
25Al MudzilالمذلYang Maha Menghinakan (makhluk-Nya)
26Al Samii`السميعYang Maha Mendengar
27Al BashiirالبصيرYang Maha Melihat
28Al HakamالحكمYang Maha Menetapkan
29Al `AdlالعدلYang Maha Adil
30Al LathiifاللطيفYang Maha Lembut
31Al KhabiirالخبيرYang Maha Mengenal
32Al HaliimالحليمYang Maha Penyantun
33Al `AzhiimالعظيمYang Maha Agung
34Al GhafuurالغفورYang Maha Pengampun
35As SyakuurالشكورYang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36Al `AliyالعلىYang Maha Tinggi
37Al KabiirالكبيرYang Maha Besar
38Al HafizhالحفيظYang Maha Memelihara
39Al MuqiitالمقيتYang Maha Pemberi Kecukupan
40Al HasiibالحسيبYang Maha Membuat Perhitungan
41Al JaliilالجليلYang Maha Mulia
42Al KariimالكريمYang Maha Mulia
43Ar RaqiibالرقيبYang Maha Mengawasi
44Al MujiibالمجيبYang Maha Mengabulkan
45Al Waasi`الواسعYang Maha Luas
46Al HakiimالحكيمYang Maha Maka Bijaksana
47Al WaduudالودودYang Maha Mengasihi
48Al MajiidالمجيدYang Maha Mulia
49Al Baa`itsالباعثYang Maha Membangkitkan
50As SyahiidالشهيدYang Maha Menyaksikan
51Al HaqqالحقYang Maha Benar
52Al WakiilالوكيلYang Maha Memelihara
53Al QawiyyuالقوىYang Maha Kuat
54Al MatiinالمتينYang Maha Kokoh
55Al WaliyyالولىYang Maha Melindungi
56Al HamiidالحميدYang Maha Terpuji
57Al MuhshiiالمحصىYang Maha Mengkalkulasi
58Al Mubdi`المبدئYang Maha Memulai
59Al Mu`iidالمعيدYang Maha Mengembalikan Kehidupan
60Al MuhyiiالمحيىYang Maha Menghidupkan
61Al MumiituالمميتYang Maha Mematikan
62Al HayyuالحيYang Maha Hidup
63Al QayyuumالقيومYang Maha Mandiri
64Al WaajidالواجدYang Maha Penemu
65Al MaajidالماجدYang Maha Mulia
66Al WahiidالواحدYang Maha Tunggal
67Al AhadالاحدYang Maha Esa
68As ShamadالصمدYang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69Al QaadirالقادرYang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70Al MuqtadirالمقتدرYang Maha Berkuasa
71Al MuqaddimالمقدمYang Maha Mendahulukan
72Al Mu`akkhirالمؤخرYang Maha Mengakhirkan
73Al AwwalالأولYang Maha Awal
74Al AakhirالأخرYang Maha Akhir
75Az ZhaahirالظاهرYang Maha Nyata
76Al BaathinالباطنYang Maha Ghaib
77Al WaaliالواليYang Maha Memerintah
78Al Muta`aaliiالمتعاليYang Maha Tinggi
79Al BarriالبرYang Maha Penderma
80At TawwaabالتوابYang Maha Penerima Tobat
81Al MuntaqimالمنتقمYang Maha Pemberi Balasan
82Al AfuwwالعفوYang Maha Pemaaf
83Ar Ra`uufالرؤوفYang Maha Pengasuh
84Malikul Mulkمالك الملكYang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85Dzul Jalaali Wal Ikraamذو الجلال و الإكرامYang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86Al MuqsithالمقسطYang Maha Pemberi Keadilan
87Al Jamii`الجامعYang Maha Mengumpulkan
88Al GhaniyyالغنىYang Maha Kaya
89Al MughniiالمغنىYang Maha Pemberi Kekayaan
90Al MaaniالمانعYang Maha Mencegah
91Ad DhaarالضارYang Maha Penimpa Kemudharatan
92An Nafii`النافعYang Maha Memberi Manfaat
93An NuurالنورYang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94Al HaadiiالهادئYang Maha Pemberi Petunjuk
95Al BaadiiالبديعYang Indah Tidak Mempunyai Banding
96Al BaaqiiالباقيYang Maha Kekal
97Al WaaritsالوارثYang Maha Pewaris
98Ar RasyiidالرشيدYang Maha Pandai
99As ShabuurالصبورYang Maha Sabar

Ada kepercayaan di sebagian kalangan tentang keutamaan (fadhilah) satu per satu nama-nama tersebut. Itu hanya karangan, tidak ada dalilnya, bahkan cenderung menjadi hal bid'ah (mengada-ada). Umat Islam hanya diharuskan mengenali dan memahami sebagai bagian dari penguatan keimanan kepada Allah SWT, dan sering menyebutnya dalam doa. Wallahu a'lam. (MuslimToday.net).*

Read More »
1:54 PM | 0 comments

Wednesday, March 21, 2012

Sunah

sunahSunah terbagi ke dalam empat definisi.

  1. Segala sesuatu yang terdapat di dalam Al-Quran  dan Hadits Rasulullah Saw.

  2. Sunnah yang bermakna “Al-Hadits” (ucapan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Muhamad Saw).

  3. Sunnah sebagai lawan dari Bid’ah (perkara yang dibuat-buat/diada-adakan dalam ibadah).

  4. Sunnah bermakna “mandub” dan “mustahab”, yaitu segala sesuatu yang diperintahkan dalam bentuk anjuran, bukan dalam bentuk pewajiban (biasa disebut juga ”sunat” alias tidak wajib).


“Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang tetap hidup (setelah kematianku), niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka, berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang memperoleh petunjuk dan berilmu. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta berhati-hatilah terhadap perkara-perkara baru yang dibuat-buat. Sungguh, setiap perkara baru yang dibuat-buat adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat!” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Budaya adalah adat, tradisi, atau kebiasaan. Budaya Arab ada sebelum Islam hadir. Jahiliyah termasuk budaya Arab. Maka, budaya Arab tidak sama dengan Sunah. (MuslimToday.net).*

Read More »
12:33 AM | 0 comments

Bid’ah

Bid’ah itu mengada-adakan dalam urusan agama (ibadah), lebih pada soa praktik ibadah seperti syarat, rukun, tata cara, dan bacaan-bacaan. Jika kita menambah syarat, rukun, tata cara, dan bacaan, itulah bid’ah. Kita harus beribadah persis seperti yang dilakukan Rasulullah Saw dan para sahabatnya, tanpa menambah atau mengurangi.

Para ulama memberikan beberapa definisi bid’ah, redaksinya berbeda-beda, namun sebenarnya memiliki kandungan makna yang sama.

Ibnu Taimiyah, misalnya, mengatakan bid’ah dalam agama adalah perkara yang dianggap wajib maupun sunnah, namun yang Allah dan rasul-Nya tidak syariatkan.

Imam Syathibi: bid’ah adalah satu jalan dalam agama yang diciptakan menyamai syariat yang diniatkan dengan menempuhnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.

Ibnu Rajab: bid’ah adalah mengada-adakan suatu perkara yang tidak ada asalnya dalam syariat. Jika perkara-perkara baru tersebut bukan pada syariat, maka bukanlah bidah, walaupun bisa dikatakan bid’ah secara bahasa.

Imam as-Suyuthi: bid’ah adalah sebuah ungkapan tentang perbuatan yang menentang syariat dengan suatu perselisihan atau suatu perbuatan yang menyebabkan menambah dan mengurangi ajaran syariat.

Semua bid’ah itu sesat. Sabda Nabi Saw: “Kullu bid’atin dhalalah”, setiap bid’ah itu sesat. “Kullu” artinya tiap-tiap alias semuanya. Sudah tentu mencakupi semua bid’ah pasti sesat.

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Saw. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim).

Istilah bid’ah yang bail (bid’ah hasanah) itu dari Imam Syafi’i. Ar-Rabbi rahimahullah: “Telah berkata as-Syafi’ie rahimahullahu Ta’ala: perkara-perkara yang diadakan terbagi dua: yang pertama apa yang di buat bertentangan dengan al-Kitab (al Qur’an), Sunnah, Ijma atau atsar, maka inilah bid’ah yang sesat. Kedua apa yang di buat berupa kebaikan yang tidak bertentangan dengan salah satu dari perkara (al Qur’ah, Sunnah, Ijma, dan atu atsar) maka itu perbuatan yang tidak tercela.”

Yang dimaksudkan Imam Syafi’i ialah bid’ah dari segi bahasa (lughah), bukan dari segi syara’ atau dalam persoalan agama. Imam Syafi’i sendiri menegaskan: “Apabila kamu temui di dalam Kitabku apa yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah, maka berkatalah (ambil/peganglah) kamu dengan sunnah tersebut dan hendaklah kamu tinggalkan apa yang telah aku katakan.”

Pendapat Imam Syafi’i soal bi’dah yang baik itu, berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khothob ketika mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat Tarawih berjamaah. Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (HR. Bukhari).

Menurut para ulama, shalat tarawih ala Umar bukanlah bid’ah secara syariat, karena Rasulullah pun pernah melakukan shalat tarawih secara berjama’ah pada awal Ramadhan selama dua atau tiga malam. Sehingga yang dimaksudkan “bid’ah yang baik” dari perkataan Umar itu secara bahasa, dan bukan bid’ah secara syar’i. (MuslimToday.net).*

Read More »
12:30 AM | 0 comments

Syi’ah

Syi’ah lebih merupakan aliran politik di kalangan umat Islam. Mereka meyakini bahwa khalifah Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad mestinya Ali bin Abu Thalib, bukan Abu Bakar lalu Umar dan Utsman.

Kaum Syi’ah sangat mengagumi Ali, menganggapnya sebagai sahabat paling istimewa, dan percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad (berarti wahyu dari Allah) untuk menjadi khalifah atau penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad.

Secara bahasa, Syi’ah artinya ”mengikuti”, ”pembela”, dan ”pengikut” seseorang. Dalam Rapat Kerja Nasional tahun 1984, Majelis Ulama Indonesia (MUI) merekomendasikan tentang Syi’ ah sebagai berikut:

  1. Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait (keluarga Nabi)

  2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma’sum (orang suci)

  3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”

  4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan atau pemerintahan (imamah) termasuk rukun agama.


Diperkirakan jumlah Syiah 10-15% dari keseluruhan umat Islam dunia. Kaum Syi’ah terbesar ada di Iran dan Irak. (MuslimToday.net).*

Read More »
12:28 AM | 0 comments

Dajal

Secara bahasa "dajal" atau “dajjal” (dajala) artinya menutupi, mengacaukan, membingungkan, juga manipulasi, yakni manipulasi kebenaran atau menyembunyikan kebenaran (fakta).

Jadi, dajjal itu sebutan bagi orang yang suka berdusta, memanipulasi, menutupi kebenaran, atau melahirkan kebohongan dan kepalsuan.

Dinamakan dajjal karena ia menutup kebenaran dengan kebatilan atau karena ia menutupi kekafirannya terhadap orang lain dengan kebohongan, kepalsuan, dan penipuan. Ada juga pendapat, disebut dajjal karena ia tersebar dan menutupi seluruh muka bumi.

Menurut Al-Qurthubi dalam At-Tadzkirah, lafadz dajjal dipakai untuk 10 makna, di antaranya Kadzdzab (tukang dusta) dan Mumawwih (tukang tipu).

Para nabi telah memperingatkan akan keluarnya dajja. Rasulullah Saw menyebut kata “dajjal” dan bersabda: “Aku memperingatkan kalian darinya. Tidaklah ada seorang nabi kecuali pasti akan memperingatkan kaumnya tentang dajjal. Nuh a.s. telah memperingatkan kaumnya. Akan tetapi aku akan sampaikan kepada kalian satu ucapan yang belum disampaikan para nabi kepada kaumnya: Ketahuilah dia itu buta sebelah matanya, adapun Allah Swt tidaklah demikian.” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim).

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda: “Maukah aku sampaikan kepada kalian tentang dajjal yang telah disampaikan oleh para nabi kepada kaumnya? Dia buta sebelah matanya, membawa sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dia katakan surga pada hakikatnya adalah neraka. Aku peringatkan kepada kalian sebagaimana Nabi Nuh a.s. memperingatkan kaumnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Dajjal dikejar oleh Nabi ‘Isa a.s. hingga mendapatkannya di Bab Ludd (satu negeri dekat Baitul Maqdis, Palestina). Beliau pun membunuhnya.” (HR. Muslim). (MuslimToday.net).*

Read More »
12:22 AM | 0 comments

Imam Mahdi

Imam Mahdi adalah nama gelar sebagaimana halnya dengan gelar khalifah, amirul mukminin dan sebagainya.  Imam Mahdi diartikan sebagai “pemimpin yang telah diberi petunjuk”. Imam = pemimpin, Mahdi = yang mendapat petunjuk.

Hadits Nabi Saw menyebutkan, kehadiran Imam Mahdi menunjukkan kiamat segera tiba. Imam Mahdi atau Muhammad Al-Mahdi adalah “seorang Muslim berusia muda yang akan dipilih oleh Allah untuk menghancurkan semua kezhaliman dan menegakkan keadilan di muka bumi sebelum datangnya hari kiamat” (HR. Thabrani, Abu Daud, Al-Hakim).

“Pada akhir zaman akan muncul seorang khalifah yang berasal dari umatku, yang akan melimpahkan harta kekayaan selimpah-limpahnya, dan ia sama sekali tidak akan menghitung-hitungnya” (HR. Muslim dan Ahmad)

Kehadiran Imam Mahdi akan membuat murka raja kezaliman yang disebut Dajjal sehingga ia keluar dari persembunyiannya dan berusaha membunuh Imam Mahdi serta pengikutnya. Saat itulah Nabi Isa a.s. turun kembali ke bumi dan bersama-sama Imam Mahdi menghancurkan Dajjal dan pengikutnya. (MuslimToday.net).*

Read More »
12:19 AM | 0 comments

Wahabi

Wahabi (Wahabiyah, Wahabisme) adalah sebuah aliran pemahaman dalam Islam, yakni pemikiran dan perjuangan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, ulama pembaharu dari Arab Saudi, seperti pembaharuan dari perilaku syirik menuju tauhid dan dari bid’ah menuju Sunnah.

Abdul Wahab menilai, kemunduran umat Islam terjadi karena mereka sudah jauh dari Islam yang murni, yakni praktik ibadahnya sudah bercampur dengam hal-hal berbau bid’ah, khurafat, dan tahayul yang tidak ada ajarannya dalam Islam.

Muhammad bin Abdul Wahhab (1701 – 1793 M) lahir di Kampung Ainiyah, Najd, Arab Saudi. Beliau berasal dari kabilah Bani Tamim. Buku beliau bertajuk ‘Kitab al-Tauhid’. Para murid dan pendukungnya disebut Wahabi.

Para pendukungnya menolak disebut Wahabi, karena pada dasarnya ajaran Ibnu Wahhab adalah ajaran Nabi Muhammad, bukan ajaran tersendiri. Karenanya, mereka lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai Salafis atau Muwahhidun, yang berarti “satu Tuhan”.

Ia memberantas khurafat seperti menganggap “keramat” makam para ulama yang dinilai berbahaya bagi tauhid umat. Sikap tegas dan tanpa kompromi dalam masalah akidah membuat ia dikenai banyak tuduhan atau fitnah.

Abdul Wahab wafat tanggal 29 Syawal 1206 H/1793 M, dalam usia 92 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Dar’iyah (Najd). Demikian catatan singkat tentang Wahabi atau Abdul Wahab berdasarkan sumber-sumber yang kami miliki dan yakini kebenarannya. (MuslimToday.net).*

Read More »
12:16 AM | 0 comments

Salafy

Salaf adalah para pendahulu, generasi awal umat Islam, sebutan bagi para sahabat Rasulullah Saw –orang-orang beriman yang dekat dan sezaman dengan beliau– dan para pengikut mereka (tabi’in) serta generasi sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in). Mereka tiga generasi terbaik umat Muslim dan memberikan contoh bagaimana Islam dipraktekkan.

Para sahabat digelar “khairu ummah”, sebaik-baik manusia. Mereka paling paham agama dan paling baik amalannya. Sabda Rasulullah Saw: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian generasi setelahnya kemudian generasi setelahnya”.

Salaf atau kelompok Salafy adalah mereka berkomitmen di atas Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw.

Istilah Salafy juga biasa dialamatkan kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-Sunnah.

Kelompok Salafy, pasca generasi awal kaum Muslim itu, tidaklah dibatasi atau ditujukan kepada jamaah organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Jadi, tidak eksklusif atau bukanlah kelompok eksklusif.

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100).

Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak mengkhususkan ridha dan jaminan surga-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar semata, tetapi juga bagi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. (MuslimToday.net).*

Read More »
12:10 AM | 0 comments

Ahlus Sunnah wal Jamaah

Ahlus Sunnah wal Jamaah (ASWAJA), secara harfiah, berarti orang yang mengikuti tuntunan dan kelompok (pengikut Nabi Saw). Ahlus Sunnah bisa juga berarti orang yang mengikuti sunnah Nabi Saw, lawannya ahlul Bid’ah.

Menurut Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan, sifat Ahlus Sunnah wal Jamaah antara lain beriman kepada Allah dna Rasul-Nya, mengakui (mengimani) semua yang dibawa para nabi dan rasul, mengetahui hak orang salaf yang telah dipilih oleh Allah untuk menyertai Nabi-Nya, mendahulukan Abu Bakar, Umar, dan Utsman serta mengakui hak Ali bin Abi Thalib, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid bin Amr bin Nufail atas para sahabat yang lain –merekalah sembilan orang yang telah bersama-sama Nabi Saw berada di atas Gunung Hira’, shalat berjamaah dan Jumat bersama semua pemimpin –baik yang taat maupun zhalim.

Ahlus Sunnah wal Jamaah itu tidak identik dengan kelompok atau madzhab tertentu, tetapi siapa saja yang memenuhi kualifikasi di atas. Ketaatan pada Sunnah Rasul tidak hanya dan tidak cukup dengan cara berpakaian, tapi lebih dari itu adalah meneladani akhlak, ibadah, dan mu’amalah Rasulullah Saw. (MuslimToday.net).*

Read More »
12:08 AM | 0 comments

Friday, February 3, 2012

Ulama

SECARA harfiyah ulama artinya “orang-orang yang memiliki ilmu”. Pengertian ulama secara harfiyah ini sejalan dengan beberapa pendapat ulama sendiri:

“Ulama adalah orang yang ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah” (Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).

“Mereka (para ulama) adalah orang-orang yang menjelaskan segala apa yang dihalalkan dan diharamkan, dan mengajak kepada kebaikan serta menafikan segala bentuk kemudharatan” (Badruddin Al-Kinani).

“Ulama ialah orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang ayat-ayat Allah, baik yang bersifat kauniyah maupun Quraniyah, dan mengantarnya kepada pengetahuan tentang kebenaran Allah, takwa, dan khasysyah (takut) kepada-Nya” (M. Quraish Shihab).

“Karakteristik esensial ulama adalah iman, ilmu, dan amal, yang semuanya amat mendalam, berbeda dengan orang biasa, serta mendapatkan pengakuan dan penerimaan dari masyarakat secara kultural” (Mastuhu).

Dari pengertian secara harfiyah dapat disimpulkan, ulama adalah orang yang menguasai ilmu agama Islam, memahami syariat Islam secara menyeluruh sebagaimana terangkum dalam Al-Quran dan As-Sunnah, dan menjadi teladan umat Islam dalam memahami serta mengamalkannya.

Dewasa ini, yang disebut ulama umumnya adalah mereka yang menguasai berbagai disiplin ilmu agama (Islam), fasih dan paham (faqih) tetang hukum-hukum Islam, memiliki pesantren atau mempunyai santri yang berguru kepadanya, dan diberi gelar ‘kiai’ atau ‘ajengan’ oleh masyarakat.

Untuk menentukan siapa yang termasuk ulama, rujukannya adalah nash Al-Quran dan Hadits tentang ciri atau sifat ulama, antara lain:

Pertama, paling takut kepada Allah. “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama” (QS. Fathir: 28) karena ia dianugerahu ilmu, tahu rahasia alam, hukum-hukum Allah, paham hak dan batil, kebaikan dan keburukan, dsb.

Kedua, berperan sebagai “pewaris nabi” (waratsatul ambiya’). “Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)”. Seorang ulama menjalankan peran sebagaimana para nabi, yakni memberikan petunjuk kepada umat dengan aturan Islam, seperti mengeluarkan fatwa, laksana bintang-bintang di langit yang memberikan petunjuk dalam kegelapan bumu dan laut (HR. Ahmad).

Ketiga, terdepan dalam dakwah Islam, menegakkan ‘amar ma’ruf nahyi munkar, menunjukkan kebenaran dan kebatilan sesuai hukum Allah, dan meluruskan penguasa yang zhalim atau menyalahi aturan Allah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin mengatakan, “Tradisi ulama adalah mengoreksi penguasa untuk menerapkan hukum Allah… kerusakan masyarakat adalah akibat kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa itu akibat kerusakan ulama.” Al-Ghazali bahkan membagi ulama dalam dua kategori, yakni ulama akhirat dan ulama dunia (ulama su’).  Salah satu tanda ulama dunia  adalah mendekati penguasa. Wallahu a’lam. (MuslimToday.net).*

Read More »
2:57 PM | 0 comments

Zuhud

Zuhud yaitu sikap tidak menjadikan dunia dan kehidupan materi sebagai tujuan, tapi hanya sebagai sarana beribadah. Pelakunya disebut zahid.

Secara etimologis, zuhud berarti raghaba ‘ansyai’in wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah.

Dunia dipandang sebagai sarana ibadah dan untuk meraih keridlaan Allah Swt., bukan tujuan tujuan hidup, dan di sadari bahwa mencintai dunia akan membawa sifat–sifat mazmumah (tercela). Keadaan seperti ini telah dicontohkan oleh Nabi Saw dan para sahabatnya.

Zuhud berarti tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah ada di tangan dan tidak merasa bersedih karena hilangnya kemewahan itu dari tangannya. Bagi

Menurut Abu Wafa al-Taftazani, zuhud itu bukanlah kependetaan atau terputusnya kehidupan duniawi, akan tetapi merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi itu. Mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan qalbunya dan tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. At-Taftazani menjelaskan, zuhud adalah tidak bersyaratkan kemiskinan. Bahkan terkadang seorang itu kaya, tapi pada saat yang sama ia pun zahid. Ustman bin Affan dan Abdurrahman ibn Auf adalah para hartawan, tapi keduanya adalah para zahid dengan harta yang mereka miliki.

Zuhud menurut Nabi serta para sahabatnya, tidak berarti berpaling secara penuh dari hal-hal duniawi. Tetapi berarti sikap moderat atau jalan tengah dalam menghadapi segala sesuatu, sebagaimana diisyaratkan firman–firman Allah: ”Dan begitulah Kami jadikan kamu (umat Islam) umat yang adil serta pilihan”; “Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu dari (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. (MuslimToday.net).*

Read More »
2:44 PM | 0 comments

Jin

JIN merupakan makhluk penghuni alam ghaib, yakni alam yang tidak dapat dilihat atau diindera oleh manusia. Meyaknini adanya hal yang ghaib merupakan keharusan. Umat Islam wajib meyakini adanya hal-hal yang tidak dapat dilihatnya atau dijangkau dengan indera, seperti hari kiamat, malaikat, jin, syetan, dan alam kubur.

Allah SWT merupakan Dzat Yang Mahagaib. Allah pula yang mengetahui hal-hal ghoib itu. Adalah dusta belaka jika orang mengaku mengetahui alam ghaib.

“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang ghoib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri”(QS. Al-An’am:59).

“Allah yang Maha Mengetahui yang ghoib dan Dia tidak menyatakan kepada seorang pun tentang yang ghoib itu kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya” (QS. Al-Jin: 26-27).

Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim mengutip ucapan Qatadah, bahwa yang dimaksud dengan hal yang gaib adalah segala hal yang tak dapat dilihat atau dirasakan oleh manusia. Karenanya, hakikat gaib tak ada yang tahu kecuali Allah SWT. Bahkan, Rasulullah saw sendiri pun tak mengetahui apa-apa tentang hal gaib kecuali yang diberitahukan Allah SWT.

Termasuk hal ghaib adalah apa yang akan terjadi pada masa mendatang. Adalah dusta belaka jika ada orang, misalnya dukun atau paranormal, yang mengaku tahu apa yang akan terjadi pada masa mendatang. “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahaknnnya besok” (QS. Lukman:34).

Menurut Prof. Dr. M. Mutawalli Asy Sya’rawi dalam kitabnya, Al-Ghoib dan Anta Tasa’wa Islam Yujib,  kadangkala untuk mengetahui ghaib manusia menggunakan jin untuk memperoleh informasi. Jika jin sudah dimintai tolong atau dipuja seperti itu, maka jin akan mengendalikan manusia pemujanya dan mempermainkannya dalam kesesatan.

“Beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka mereka menjadikan jin bertambah sombong” (QS. Al-Jin:6).

Menurut Asy Sya’rawi, jin dalam bentuk aslinya tidak dapat dilihat oleh manusia. Manusia hanya dapat melihat jelmaannya saja. Jin bisa menjelma menjadi binatang atau menyerupai manusia.(MuslimToday.net).*

Read More »
2:41 PM | 0 comments

Thursday, February 2, 2012

Rukyah

SEIRING maraknya pengobatan alternatif, mengemuka pula pengobatan alternatif Islami yang dikenal dengan Rukyah (Ruqyah)? Nabi Muhammad Saw bersabda, "Tidak apa-apa ruqyah itu selama tidak mengandung syirik" (HR Muslim).

Bisa dikatakan, Rukyah merupakan upaya untuk mengusir jin dan segala macam gangguannya dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran. Bagi jin yang mengganggu dan jahat, bacaan Al-Quran terutama pada ayat tertentu yang dibaca dengan baik dan benar oleh orang yang saleh dan bersih imannya, akan sangat ditakuti. Para jin jahat akan merasakan panas yang membakar dan mereka pun pergi.

Ayat-ayat Al-Quran yang paling sering digunakan dalam Rukyah adalah Ayat Kursi, beberapa penggalan ayat dalam Surat Al-Baqarah (tiga ayat terakhir), Surat Ali Imron, Surat Yasin, Surat Al-Jin, surat Al-Falaq, dan Surat An-Naas.

Tetapi bila dalam Rukyah menggunakan cara-cara yang menyimpang, apalagi dengan melanggar syariat dan akidah, tidak boleh dilakukan. Misalnya, bila orang itu bilang bahwa jin itu minta sesajen, minta kembang, atau dikorbankan hewan sembelihan sebagai tumbal, itu syirik. Setidaknya, Rukyah pun berpotensi mengarah kepada syirik jika tidak dilakukan dengan sangat hati-hati dan oleh orang yang beriman dan saleh.

Agar pelaksanaan Rukyah sesuai dengan Syariat Islam, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Bacaan Rukyah berupa ayat-ayat Alqur‘an dan Hadits.

  • Do‘a yang dibacakan jelas dan diketahui maknanya.

  • Berkeyakinan bahwa Rukyah tidak berpengaruh dengan sendirinya, tetapi dengan takdir Allah SWT.

  • Tidak isti‘anah (meminta tolong) kepada dengan jin atau yang lainnya selain Allah Swt.

  • Tidak menggunakan benda-benda yang menimbulkan syubhat dan syirik.

  • Cara pengobatan harus sesuai dengan nilai-nilai Syari‘ah.

  • Orang yang melakukan terapi harus memiliki kebersihan akidah, akhlak terpuji, dan istiqomah dalam ibadah (swaramuslim.net).


Imam Ibnu Qayyim, seperti dikutip Syariah Online, mengatakan, di antara obat yang paling mujarab untuk melawan sihir akibat pengaruh jahat setan adalah dengan pengobatan syar’i, yaitu dengan dzikir, do’a, dan bacaan-bacaan yang bersumber dari Al-Qur’an. Jiwa seseorang jika dipenuhi dengan zikir, wirid, dan mensucikan nama Allah, niscaya akan terhalangi dari pengaruh sihir. “Orang yang terkena sihir bisa sembuh dengan membaca Rukyah sendiri atau dari orang lain dengan ditiupkan pada dada atau tubuh yang sakit sambil membaca zikir dan doa,” katanya.  (MuslimToday.net).*

Read More »
8:07 AM | 0 comments

Wednesday, February 1, 2012

Tauhid

TAUHID –dari akar kata ahad atau wahid— artinya artinya satu. Dalam Islam, ia adalah asas keyakinan (akidah), bahwa Tuhan itu hanya satu, yakni Allah Swt dan tidak ada yang setara, juga sekutu, dengan-Nya. Hanya Dia yang wajib disembah dan dimintai pertolongan. Hanya Dia yang ditaati dan ditakuti. Hanya Dia yang menentukan segala sesuatu di dunia dan akhirat nanti. Tauhid dirangkum dalam kalimat tahlil: “La ilaha illallah” (tidak ada Tuhan selan Allah).

Tauhid terdiri dari tiga aspek, yakni tauhid dalam kekuasaan Tuhan (tauhid rububiyah), ibadah (tauhid uluhiyah), dan dalam nama dan sifat Allah (Asma wa Sifat).

Rububiyah yakni mempercayai dan mengakui bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara serta menjaga seluruh Alam Semesta. "Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu" (QS. Az-Zumar:62).

Uluhiyah artinya hanya kepada Allah setiap ibadah ditujukan, tidak ada persembahan atau pengabdian pada selain-Nya, dan hanya Allah yang layak disembah. Menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid, ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah Ta'ala dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Inilah hakekat agama Islam karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya.

Asma wa Sifat artinya bahwa sesuai nama dan sifat (karakteristik) Allah yang disebutkan baik oleh Al-Qur'an dan Al-Hadits adalah hanya berhak disandang oleh Allah itu sendiri.

Umat Islam diperintahkan hanya beribadah kepada Allah dan menjauhi Thogut. "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut." (QS. An-Nahl:36). Thaghut yaitu setiap yang diagungkan --selain Allah— dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia, ataupun syetan.

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah berkata, Thaghut adalah segala sesuatu yang diperlakukan oleh seseorang secara melampaui batas, baik dalam hal penyembahan, ketaatan atau ikutan. Karena itu thaghut adalah segala sesuatu yang diminta untuk memutuskan perkara selain dari Allah dan Rasul-Nya, selain Allah yang disembah, yang diikuti padahal tidak selaras dengan syariat Allah, atau ditaati dalam hal-hal yang tidak diketahui sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Ini semua adalah thaghut dunia ini.

Syaikh Sulaiman bin Sahman an-Najdi berkata, “Thaghut itu ada tiga macam, thaghut dalam hukum, thaghut dalam peribadatan, dan thaghut dalam ikutan “. Mengikuti hukum selain hukum Allah, mengabdi kepada selain-Nya, dan mengikuti selain perintah-Nya, berarti mengikuti Thogut dan menyalahi tauhid. Wallahu a’lam. (MuslimToday.net).*

Read More »
2:31 PM | 0 comments

Silaturahmi

Silaturahmi (kata baku bahasa Indonesia) atau silaturahim (Arab: shilah al-rahim) terdiri dari kata shilah --yang terambil dari akar kata washala yang berarti menyambung-- dan ar-rahim yang pada mulanya berasal dari nama Allah, lalu diberikannya kepada makhluk untuk menunjuk pada sesuatu yang  menjadi penyebab kasih-sayang, yakni “rahim/peranakan”.

Walaupun dalam Al-Quran tidak terdapat istilah shilaturahim, namun banyak ayat yang mengisyaratkan pentingnya memelihara shilaturrahim, seperti QS Al-Nisa’: 1, “Bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain (dan peliharalah hubungan) rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Di samping perintah di atas, ada juga ayat yang mengecam orang-orang yang  memutuskannya, seperti: ”Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya pula mata mereka”  (QS Muhammad [47]: 22-23). (MuslimToday.net).*

Read More »
2:29 PM | 0 comments

Fitrah

Fitrah berasal dari akar kata f-t-r (fa-tho-ro) dalam bahasa Arab yang berarti “membuka” atau “menguak”. Fitrah juga mempunyai makna “asal kejadian”, “keadaan yang suci”, dan “kembali ke asal”

Fitrah manusia secara religius adalah beriman Islam. Tegasnya, fitrah atau keadaan jiwa (ruh) asli umat manusia adalah mengakui ketuhanan Allah Swt (QS. Al-A'raf:172), meyakini syariat Islam, dan siap serta mampu mengamalkannya. Hanya hawa nafsu dan ketidaktahuan (jahil) yang membuat seseorang tidak beriman Islam atau merasa berat mengamalkan syariat Islam.

Menurut Imam Bukhari, fitrah manusia itu tidak lain adalah Islam, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Tidak ada seorang pun yang dilahirkan, kecuali ia terlahir dalam keadaan fitrah. Maka orangtuanyalah yang membuatnya jadi seorang Yahudi, Nashrani, atau Majusi" (HR. Bukhari). (MuslimToday.net).*

Read More »
2:27 PM | 0 comments

Islam

Secara etimologis (asal-usul kata, lughawi) kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh.

“Bahkan, barangsiapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati” (QS. 2:112).

Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya (Drs. Nasruddin Razak, 1989: 56-57).

Hal senada dikemukakan Hammudah Abdalati (1975: 7). Menurutnya, kata “Islam” berasal dari akar kata Arab, SLM (Sin, Lam, Mim) yang berarti kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan ketundukkan. Dalam pengertian religius, menurut Abdalati, Islam berarti "penyerahan diri kepada kehendak Tuhan dan ketundukkan atas hukum-Nya" (Submission to the Will of God and obedience to His Law).

Hubungan antara pengertian asli dan pengertian religius dari kata Islam adalah erat dan jelas. Hanya melalui penyerahan diri kepada kehendak Allah Swt dan ketundukkan atas hukum-Nya, maka seseorang dapat mencapai kedamaian sejati dan menikmati kesucian abadi.

Ada juga pendapat, akar kata yang membentuk kata “Islam” setidaknya ada empat yang maknanya berkaitan satu sama lain.

  1. Aslama. Artinya menyerahkan diri. Orang yang masuk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah Swt. Ia siap mematuhi ajaran-Nya.

  2. Salima. Artinya selamat. Orang yang memeluk Islam, hidupnya akan selamat.

  3. Sallama. Artinya menyelamatkan orang lain. Seorang pemeluk Islam tidak hanya menyelematkan diri sendiri, tetapi juga harus menyelamatkan orang lain (tugas dakwah atau ‘amar ma’ruf nahyi munkar).

  4.  Salam. Aman, damai, sentosa. Kehidupan yang damai sentosa akan tercipta jika pemeluk Islam melaksanakan asalama dan sallama.


 Terminologis
Secara terminologis (istilah, maknawi), Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.

Cukup banyak ahli dan ulama yang berusaha merumuskan definisi Islam secara terminologis. KH Endang Saifuddin Anshari (1978: 46) mengemukakan, setelah mempelajari sejumlah rumusan tentang agama Islam, lalu menganalisisnya, ia merumuskan dan menyimpulkan bahwa agama Islam adalah:

  • Wahyu yang diurunkan oleh Allah Swt kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa dan setiap persada.

  • Suatu sistem keyakinan dan tata-ketentuan yang mengatur segala perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam pelbagai hubungan: dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lainnya.

  • Bertujuan: keridhaan Allah, rahmat bagi segenap alam, kebahagiaan di dunia dan akhirat.

  • Pada garis besarnya terdiri atas akidah, syariatm dan akhlak.

  • Bersumberkan Kitab Suci Al-Quran yang merupakan kodifikasi wahyu Allah Swt sebagai penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya yang ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah Saw. (MuslimToday.net).*


Read More »
2:25 PM | 0 comments

Komunikasi Islam

Komunikasi Islam adalah proses penyampaian pesan-pesan keislaman dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi dalam Islam. Dengan pengertian demikian, maka komunikasi Islam menekankan pada unsur pesan (message), yakni risalah atau nilai-nilai Islam, dan cara (how), dalam hal ini tentang gaya bicara dan penggunaan bahasa (retorika).

Pesan-pesan keislaman yang disampaikan dalam komunikasi Islam meliputi seluruh ajaran Islam, meliputi akidah (iman), syariah (Islam), dan akhlak (ihsan).

Soal cara (kaifiyah), dalam Al-Quran dan Al-Hadits ditemukan berbagai panduan agar komunikasi berjalan dengan baik dan efektif. Kita dapat mengistilahkannya sebagai kaidah, prinsip, atau etika berkomunikasi dalam perspektif Islam.

Kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam ini merupakan panduan bagi kaum Muslim dalam melakukan komunikasi, baik dalam komunikasi intrapersonal, interpersonal dalam pergaulan sehari hari, berdakwah secara lisan dan tulisan, maupun dalam aktivitas lain.

Dalam berbagai literatur tentang komunikasi Islam kita dapat menemukan setidaknya enam jenis gaya bicara atau pembicaraan (qaulan) yang dikategorikan sebagai kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam, yakni (1) Qaulan Sadida, (2) Qaulan Baligha, (3) Qulan Ma’rufa, (4) Qaulan Karima, (5) Qaulan Layinan, dan (6) Qaulan Maysura.

1. QAULAN SADIDA
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Qaulan Sadida –perkataan yang benar” (QS. 4:9)

Qaulan Sadidan berarti pembicaran, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa).

Dari segi substansi, komunikasi Islam harus menginformasikan atau menyampaikan kebenaran, faktual, hal yang benar saja, jujur, tidak berbohong, juga tidak merekayasa atau memanipulasi fakta.

“Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (QS. Al-Hajj:30).

“Hendaklah kamu berpegang pada kebenaran (shidqi) karena sesungguhnya kebenaran itu memimpin kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

“Katakanlah kebenaran walaupun pahit rasanya” (HR Ibnu Hibban).

Dari segi redaksi, komunikasi Islam harus menggunakan kata-kata yang baik dan benar, baku, sesuai kadiah bahasa yang berlaku.

“Dan berkatalah kamu kepada semua manusia dengan cara yang baik” (QS. Al-Baqarah:83).

“Sesungguhnya segala persoalan itu berjalan menurut ketentuan” (H.R. Ibnu Asakir dari Abdullah bin Basri).

Dalam bahasa Indonesia, maka komunikasi hendaknya menaati kaidah tata bahasa dan mengguakan kata-kata baku yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

2. QAULAN BALIGHA
“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan Baligha –perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.“ (QS An-Nissa :63).

Kata baligh berarti tepat, lugas, fasih, dan jelas maknanya. Qaulan Baligha artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah (straight to the point), dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele.

Agar komunikasi tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan kadar intelektualitas komunikan dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh mereka.

“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim).

”Tidak kami utus seorang rasul kecuali ia harus menjelaskan dengann bahasa kaumnya”(QS.Ibrahim:4)

Gaya bicara dan pilihan kata dalam berkomunikasi dengan orang awam tentu harus dibedakan dengan saat berkomunikasi dengan kalangan cendekiawan. Berbicara di depan anak TK tentu harus tidak sama dengan saat berbicara di depan mahasiswa. Dalam konteks akademis, kita dituntut menggunakan bahasa akademis. Saat berkomunikasi di media massa, gunakanlah bahasa jurnalistik sebagai bahasa komunikasi massa (language of mass communication).

3. QAULAN MA’RUFA
Kata Qaulan Ma`rufan disebutkan Allah dalam QS An-Nissa :5 dan 8, QS. Al-Baqarah:235 dan 263, serta Al-Ahzab: 32.

Qaulan Ma’rufa artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan. Qaulan Ma’rufa juga bermakna pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat).

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya[268], harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Ma’rufa –kata-kata yang baik.” (QS An-Nissa :5)

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, Maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Ma’rufa –perkataan yang baik” (QS An-Nissa :8).

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu Menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka) Qaulan Ma’rufa –perkataan yang baik…” (QS. Al-Baqarah:235).

“Qulan Ma’rufa –perkataan yang baik– dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 263).

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya] dan ucapkanlah Qaulan Ma’rufa –perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32).

4. QAULAN KARIMA
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orangtuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, seklai kali janganlah kamu mengatakan kepada kedanya perkatan ‘ah’ dan kamu janganlah membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Karima –ucapan yang mulia” (QS. Al-Isra: 23).

Qaulan Karima adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertatakrama. Dalam ayat tersebut perkataan yang mulia wajib dilakukan saat berbicara dengan kedua orangtua. Kita dilarang membentak mereka atau mengucapkan kata-kata yang sekiranya menyakiti hati mereka.

Qaulan Karima harus digunakan khususnya saat berkomunikasi dengan kedua orangtua atau orang yang harus kita hormati.

Dalam konteks jurnalistik dan penyiaran, Qaulan Karima bermakna mengunakan kata-kata yang santun, tidak kasar, tidak vulgar, dan menghindari “bad taste”, seperti jijik, muak, ngeri, dan sadis.

5. QAULAN LAYINA
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan Qulan Layina –kata-kata yang lemah-lembut…” (QS. Thaha: 44).

Qaulan Layina berarti pembicaraan yang lemah-lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layina ialah kata kata sindiran, bukan dengan kata kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.

Ayat di atas adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Musa dan Harun agar berbicara lemah-lembut, tidak kasar, kepada Fir’aun. Dengan Qaulan Layina, hati komunikan (orang yang diajak berkomunikasi) akan merasa tersentuh dan jiwanya tergerak untuk menerima pesan komunikasi kita.

Dengan demikian, dalam komunikasi Islam, semaksimal mungkin dihindari kata-kata kasar dan suara (intonasi) yang bernada keras dan tinggi.

6. QAULAN MAYSURA
”Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka Qaulan Maysura –ucapan yang mudah” (QS. Al-Isra: 28).

Qaulan Maysura bermakna ucapan yang mudah, yakni mudah dicerna, mudah dimengerti, dan dipahami oleh komunikan. Makna lainnya adalah kata-kata yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembirakan. Wallahu a’lam. (www.romeltea.com).*

Read More »
2:20 PM | 0 comments