JAWAB: Menurut para ahli, arah kiblat (mengarah ke Ka’bah) dari Indonesia yang benar memang ke barat laut –arah barat sedikit serong ke kanan. Jadi, kalau arah kiblat yang sekarang di masjid Anda atau di mana saja, sudah tepat, tentu saja tidak perlu diubah.
Menurut para ahli, antara lain Ian Sopaheluwakan dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), gempa ataupun fenomena alam lain tidak memiliki hubungan dengan arah kiblat. Ditegaskannya, posisi kiblat dari Indonesia dari dulu memang Barat Laut dan bisa dicocokkan dengan alat kompas.
“Dari dulu memang arah kiblat berada di sisi barat laut, dilihat baik dari Banda Aceh ataupun Merauke,” ujarnya (Inilah.com, 20/7). Ia menambahkan, gempa tidak menyebabkan perubahan arah kiblat. Gempa tidak akan membuat pergeseran yang berarti, dan sulit untuk bisa mengukur persis letak pergeserannya.
Hal senada dikemukakan profesor Riset Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin. Menurutnya, gempa tidak menyebabkan pergeseran kiblat (Okezone, 20/3). Menurutnya, jika kenyataannya banyak mesjid yang arah kiblatnya kurang tepat, bukan disebabkan gempa, melainkan karena sejak awal menentukan arah kiblat yang memang kurang akurat.
MUI menghimbau seluruh masjid yang kiblatnya ke barat (bukan ke barat laut) alias kurang tepat selama ini, agar segera menyesuaikan arah kiblat 30 cm atau 10 derajat ke kanan. MUI telah merevisi fatwa tanggal 22 Maret 2010 yang menyebutkan arah kiblat ke arah barat, menjadi ”agak ke selatan”, tidak barat pas, tapi agak miring, yaitu arah barat laut.
Namun, revisi arah itu tidak harus membuat panik masyarakat. "Tidak mutlak arahnya, karena yang dituju bukan fisik Ka`bah, tapi jihat (arah) Ka`bah, dan itu bisa berbeda-beda di setiap tempat," kata Ketua MUI Amidhan seperti dikutip Antara. Wallahu a’lam.*
Post a Comment