Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Thursday, December 30, 2010

Salman Al-Farisi Contoh Figur Ideal Pencari Kebenaran

Seorang kakek tua yang Nampak masih sangat berwibawa tengah duduk di bawah pohon rindang di halaman rumahnya yang asri di kota Mada’in la tengah dikelilingi oleh beberapa temannya yang sedang asyik mendengar pembicaraannya yang enak didengar, ceritanya yang indah, dan perhalanan hidupnya dalam mencari kebenaran. Ia bercerita kepada mereka bagaimana ia meninggalkan kaumnya sendiri untuk masuk ke dalam agama Nashrani, lalu terakhir pindah ke Agama Islam. Tentang bagaimana demi mencari kebenaran ia rela mengorbankan kekayan ayahnya yang melimpah, dan tentang bagaimana demi menyelematkan akal dan rohaninya ia rela menanggung resiko kemiskinan dan kesengsaraannya.

Ia juga bercerita kepada mereka bagaimana ia pernah dijual di pasar budak di tengah perjalanannya mencari kebenaran yang sejati, bagaimana ia bertemu dengan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam lalu beriman.Orang itu bernama Salman al-Farisi atau Salman al-Khair, salah satu sahabat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang menjadi contoh teladan bagi setiap orang yang mencari kebenaran dengan jujur dan ikhlas. Mari kita berkenalan lebih dekat dengan tokoh yang satu ini. Kita dengarkan cerita menakjubkan yang dituturkan berikut ini.

Adalah Salman al-Farisi ra bercerita, “Aku adalah penduduk Asbahan dari sebuah desa Jayi, dan Ayahku adalah kepala desanya. Aku adalah orang yang dicintai oleh Ayah. Aku adalah salah seorang pemeluk agama Majusi yang setia, sehingga aku mengabdikan diri sebagai penjaga api yang kami sembah. Aku tidak pernah membiarkan api itu padam. Ayahku punya sebuah lading yang cukup luas. Pada suatu hari ketika disuruh ayahku pergi ke ladang, aku melewati sebuah gereja orang-orang Nashrani. Aku mendengar mereka sedang khusyu’ sembahyang sambil menyanyikan lagu-lagu rohani. Aku memberanikan diri masuk ke gereja itu untuk melihat apa yang sedang mereka lakukan. Aku tertarik pada cara mereka melakukan sembahyang. Lalu dalam batin aku berkata, “Agama ini lebih baik daripada agama yang aku anut.”

Saking asyiknya berada di gereja itu, tanpa terasa matahari sudah tenggelam. Aku tidak jadi ke ladang dan juga tidak pulang, sehingga ayah menyuruh untuk mencariku. Aku bertanya kepada salah seorang dari mereka dari mana asal agamanya, dan ia menjawab, “Dari syiria.” Begitu tiba di rumah, aku ceritakan pengalamanku hari itu kepada Ayah. Kami sempat berdebat, sebelum akhirnya kakiku diikat denga rantai besi. Aku disekapnya.
Secara diam-diam aku menyuruh seorang kurir untuk memberitahukan kepada orang-orang Nashrani bahwa aku sudah masuk ke agama mereka. Aku minta tolong mereka mau memberi kabar padaku jika ada rombongan kafilah yang dating dari Syiria, aku akan ikut bersama mereka.

Begitu mendengar berita gembira itu aku langsung meloloskan diri dari sekapan, dan ikut berangkat bersama mereka ke Syria. Dari keterangan mereka aku tahu bahwa pemimpin agama mereka disebut uskup. Pada suatu hari aku menemuinya di gereja. Setelah menceritakan keadaanku, aku diterima menjadi pelayannya. Sejak itulah aku mulai giat ikut sembahyang bersamanya dan mendalami ajaran-ajaran agama Nashrani. Setelah bergaul cukup dekat, belakangan aku tahu ternyata uskup ini orang jahat. La sudah mengumpulkan sumbangan dari masyarakat tetapi bukan untuk dibagi-bagikan kepada kaum miskin melainkan disimpan untuk dirinya sendiri.

Setelah ia meninggal duni, kedudukannya digantikan oleh uskup lainnya. Berbeda dengan uskup pendahulunya, kau melihat uskup ini terkesan sangat baik. La sangat rajin beribadat, dan tidak begitu memperhatikan urusan-urusan duniawi, Itulah sebabnya aku sangat mencintainya. Pada saat menjelang ajalnya, aku berkata, “Sebelum Anda meninggal dunia, tolong beri aku pesan apa yang harus aku lakukan, dan aku harus ikut siapa.”La berkata, “Wahai puteraku, setahuku di dunia ini tidak ada menusia yang sebaik seseorang yang tinggal di Mushal.” Beberapa hari setelah ia meninggal dunia aku memutuskan untuk pergi dari gereja menuju ke daerah Mushal seperti yang dipesankannya. Tidak sulit untuk menemui orang itu.

Dan setelah menceritakan keadaanku, aku lalu ikut tinggal bersamanya beberapa waktu. Sewaktu hendak meninggal dunia, ia berpesan kepadaku supaya menemui seseorang yang tekun beribah di wilayah Nashibin. Aku lalu menemuinya dan tinggal ebrsamanya beberapa waktu. Dan sewaktu orang ini hendak meningga dunia, aku disuruh menemui dan ikut seseorang yang tinggal di daerah Amuriyah bagian dari wilayah kekuasaan Romawi.

Sepeninggalnya aku menemui orang ini dan ikut dengannya. Aku diberi tugas mengembalakan ternaknya. Seperti halnya orang-orang yang aku tumpangi hidup sebelumnya, orang terakhir ini juga tidak bisa lama-lama aku tumpangi. La pun meninggal dunia. Namun sebelum meninggal aku minta ia bersedia member pesan kepadaku. La berkata, “Wahai puteraku, sekarang ini aku tidak melihat ada orang yang baik. Tetapi aku yakin kamu akan mendapati Zaman di mana ada seorang Nabi yang diutus dengan membawa agama Ibrahim yang suci. La akan berhijrah ke sebuah negeri yang terdapat banyak pohon kurma. Sedapat mungkin temuilah dia. La punya tanda-tanda yang jelas. La tidak mau memakan sedekah, tetapi mau menerima hadiah. Di antara kedua bahunya ada cap kenabian. Kalau kamu perhatikan baik-baik kamu pasti akan tahu.”

Pada suatu hari aku bertemu dengan rombongan kafilah. Setelah menanyakan langsung kepada mereka tentang asal negeri mereka, aku tahu mereka berasal dari semenangjung Arab. Aku katakana kepada mereka, “Sapid an kambing-kambingku ini akan aku berikan kepada kalian, dengan syarat aku boleh menumpang kalian ke negeri kalian.” Mereka setuju atas tawaranku itu.

Mereka lalu membawaku. Tetapi sesampau di sebuah jurang pedesaan mereka menipuku. Mereka menjual aku kepada seorang Yahudi. Melihat terdapat banyak pohon kurma aku yakin ini pasti negeri yang pernah diterangkan kepadaku, dan yang akan menjadi tempat tujuan hijrah Nabi yang sedang aku nanti-nanti itu. Tetapi perasaan itu hanya aku simpan sendiri. Setelah beberapa waktu tinggal bersama orang Yahudi tersebut, pada suatu hari muncul seorang Yahudi lain dari bani Quraizhah. Setelah membeli aku, ia kemudian membawaku hingga tiba di Madinah. Begitu melihat negeri itu aku semakin yakin bahwa inilah negeri yang eprnah diterangkan kepadaku. Di Madinah aku diberi tugas merawat pohon-pohon kurma milik keluarga besar Bani Quraizhah. Sampai akhirnya Allah mengutus Rasul-Nya, dan sampai Nabi tiba di Madinah lalu singgah di sebuah bangunan kecil milik Bani Amr bin Auf.

Pada suatu hari ketika aku sedang berada di atas sebuah pohon kurma, dan tuanku berada di bawah, tiba-tiba ia dihampiri oleh sesame orang Yahudi yang masih saudaranya seraya berkata, “Mudah-mudahan Allah memerangi orang-orang yang tengah berkumpul mengerumuni seorang laki-laki di sebuah bangunan kecil milik keluarga Bani Amr bin Auf. Laki-laki berasal dari Makkah itu dianggap mereka sebagai Nabi.”

Mendengar omongan orang Yahudi itu seketika tubuhku terasa panas dingin. Pohon kurma yang aku naiki bergetar keras sehingga hampir saja membuatku terjatuh ke tanah. Buru-buru aku turun. Dengan rasa penasaran aku bertanya kepada orang itu, “Anda tadi bilang apa ? Ada berita apa ?”Tanpa aku sangka tiba-tiba tuanku mengangkat tangannya dan menamparku sangat kerasa seraya berkata dengan marah, “Apa urusanmu ? Ayo kembali kerja lagi !”

Sambil menahan rasa sakit aku meneruskan pekerjaanku. Ketika hari telah sore dan pekerjaanku telah selesai, diam-dam aku keluar untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendapati beliau sedang ditemani oleh beberapa orang sahabatnya. Aku berkata kepada beliau, “Aku tahu kalian orang asing yang sedang membutuhkan bantuan. Kebetulan aku punya makanan yang telah aku nadzari untuk disedekahkan. Setelah melihat keadaan kalian, aku yakin kalian adalah orang-orang yang paling berhak menerima bantuanku ini. Oleh karena itulah sekarang aku menemui kalian”.

Makanan itu aku letakkan di depan beliau yang kemudian bersabda kepada sahabat-sahabatnya, “Makanlah dengan menyebut nama Allah.” Sementara beliau sendiri tidak mau memakannya. Dalam batin aku berkata, “Demi Allah, ini tanda yang pertama. La tidak mau memakan sedekah.”

Selanjutnya aku pulang, dan besoknya aku kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa makanan. Aku katakana kepada beliau, “Aku melihat Anda tidak mau memakan sedekah. Dan sekarang aku membawa makanan lagi. Aku ingin memberikan makanan ini kepada Anda sebagai hadiah.” Setelah makanan itu aku letakkan didepannya beliau bersabda kepada sahabat-sahabatnya, “Makanlah dengan menyebut nama Allah.” Dan kali ini beliau ikut makan bersama-sama mereka. Aku berkata dalam batin, “Demi Allah, ini tanda yang kedua, La mau memakan hadiah.”

Selanjutnya aku pun pulang. Beberapa hari kemudian aku menemui beliau lagi. Aku mendapati beliau sedang ikut mengantarkan jenazah dengan ditemani sahabat-sahabatnya. La mengenakan dua potong mantel yang diikat jadi satu. Setelah menyalami beliau, aku berdiri tegak untuk melihat bagian atas punggungnya, Mengetahui keinginanku beliau lalu sengaja menjatuhkan kain selendangnya dari pundak, sehingga aku bisa melihat dengan jelas cap kenabian di tengah-tengah bahunya seperti yang pernah diterangkan kepadaku. Seketika aku peluk beliau sambil menciuminya dan menangis. Kemudian beliau memanggilku. Setelah mengambil tempat duduk persis di hadapan beliau, aku lalu menceritakan pengalamanku seperti yang sedang aku ceritakan kepada kalian sekarang ini.”

Aku lalu masuk Islam. Tetapi karena masih berstatus budak, aku tidak sempat ikut dalam Perang Bada dan Perang Uhud. Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Adakan akad mukatab dengan tuanmu, supaya kamu bisa berstatus merdeka.” Aku turuti perintah beliau tersebut. Dan atas bantuan para sahabat akhirnya aku berhasil menanggalkan statusku sebagai seorang budak.

“Sejak itu aku hidp sebagai seorang Muslim yang berstatus merdeka, sehingga aku bisa ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Khandaq, dan juga perang-perang yang lainnya.”

*Dengan kalimat-kalimat yang jelas dan manis tersebut, Salman mencoba menceritakan pengalaman serta perjalanan hidupnya yang mulia dalam rangka mencari kebenaran sejati yang dapat mengantarkannya kepada Allah, dan memberikan gambaran tentang apa perannya dalam kehidupan ini. Harus diakui, Salman al-Farisi adalah orang yang hebat. Cita-citanya yang tinggi dan hasratnya yang sangat kuat mampu menaklukkan berbagai macam kesulitan yang menghadangnya. La berhasil menundukan macam kesulitan yang menghadangnya.

La berhasil menundukan sesuatu yang mustahil enajdi mungkin. Demi sesuatu yang belum jelas dan penuh dengan resiko, la bahkan rela meninggalkan semua kekayaan orang tuanya yang menjanjikan kenikmatan-kenikmatan duniawi. Ia rela berpindah dari satu bumi ke bumi lain, dari satu negeri ke negeri lain yang berbeda, dengan menanggung penderitaan, Mata hatinya mampu melihat manusia dan kehidupan la begitu gigih berada di belakang kebenaran.

Pengorbananya begitu mulia demi mendapatkan hidayah Allah, sampai-sampai ia rela dijual sebagai seorang budak.
Namun Akhirnya Allah memberinya balasan yang sempurna. Betapa tidak. Allah menghimpunnya dengan kebenaran, dan mempertemukannya dengan Rasul utusan-Nya. Bahkan Allah menganugerahinya dengan Rasul utusan-Nya. Bahkan Allah menganugerahinya usia panjang, sehingga sepasang matanya dapat menyaksikan panji-panji Allah yang beriman memenuhi segala penjuru bumi dengan petunjuk, kasih sayang dan keadilan.

Ditulis ulang dari buku “The Power Of Idea – Meraih Cita-cita dengan Semangat Membara”, karya M. Ahmad Ismail

*Diriwayatkan oleh Thabari. Kata al-Haitsami, tokoh-tokoh sanad hadist ini adalah para perawi hadits shahih, selain Muhammad bin Ishak. Tetapi ia menegaskan bahwa Muhammad bin Ishak mendengar sendiri riwayatnya. Oleh karena itulah al-Albani menilainya sebagai hadits hasan. Lihat, as-silsilah as-Shahihat II/592
Share this article now on :

Post a Comment

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))