Oleh H.Usep Romli HM
Bencana alam berupa gempa, banjir, angin topan, hujan, petir, kemarau, paceklik, dan kelaparan, sudah merupakan ketentuan Allah SWT. Karena hanya Dia yang berkuasa melaksanakan segala yang dikehedakiNya (Q.s. At Thalaq : 3), kapan saja, di mana saja. Baik karena alasan sebagai pembalasan bagi umatNya yang membangkang, maupun sekedar peringatan agar umatNya menghentikan perilaku yang merusak keharmonisan tatanan mikrokosmos (jagat kecil lingkungan hidup mahluk di dunia) dengan makrokosmos (jagat besar alam semesta raya). Seperti pemanasan global, effek rumah kaca, kerusakan lapisan ozon dsb., akibat perbuatan berlebihan membabat hutan, memproduksi limbah, dan lain sebaganya..
Mengacu kepada ayat-ayat Qur’an, semua Muslim beriman, harus berusaha memahami makna dan hikmah bencana. Mungkin timpaan bencana itu sebagai ujian agar orang-orang beriman, mengoreksi kesalahan masing-masing (Q.s. Ali Imran : 165) . Bukan sebagai siksa akibat perilaku zalim melampaui batas (Q.s. Ali Imran : 117), dan bukan sebagai hukuman akibat terus-menerus berlaku maksiat. Melanggar larangan Allah SWT sekaligus melalaikan perintahNya (Qs. Al Araf : 165).
Semua Muslim beiman, pasti berharap, bencana merupakan bukti kecintaan Allah SWT kepada umatNya. Rasullah Saw bersabda "setiap kali Allah mencintai sekelompok orang, Allah pasti memberi cobaan kepada mereka" (hadis riwayat Imam Turmudzi). Semua juga berharap, bencana itu sebagai pertanda peningkatan derajat keimanan kepada kepada Allah SWT, sebagaimana diutarakan Rasulullah Saw "jika agamanya kuat, ditambahkan musibahnya (hadis riwayat Imam Turmudzi).
Semua Muslim beriman juga mafhum, bencana yang menimpa adalah sejenis peringatan agar tidak takabur. Tidak sombong. Tidak angkuh. Tidak merasa benar sendiri. Tidak menepuk dada. Karena, mau tidak mau, tidak sedikit di antara manusia, sekalipun mengaku Musli beriman, menunjukka perilaku besar kepala di antara sesama mahluk, karena merasa kuasa di muka bumi. Padahal Allah SWT sangat melarang perbuatan angkuh (Q.s.Luqman :19)
Kehadiran bencana semacam apapun juga, harus menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengingat kondisi kita sebagai mahluk lemah tak berdaya. Hanya Allah al Khaliqul Adzim yang Maha Kuat Maha Perkasa dan Maha Menguasai segala sesuatu.
Maka dalam hati setiap Muslim beriman, seharusnya tumbuh rasa solidaritas kolektif. Simpati dan empati yang tinggi terhadap sesama saudara yang menjadi korban, sebelum bencana itu menimpa diri sendiri. Sehinggamasih memiliki kesempatan menggalang berbagai upaya pertolongan, baik moral maupun material, dalam menyelematkan sesama saudara dari himpitan kesusahan dan kepedihan.
Setiap orang, pasti berharap, aneka macam bencana segera sirna dari negara kita tercinta. Mulai dari bencana alam yang selalu muncul setiap saat, hingga bencana temporer yang datang sewaktu-waktu Termasuk bencana ahlak, bencana mental yang menimbulkan perilaku korup, dusta dan rekayasa demi kepentingan pribadi dan kroni.
Bencana sehebat apapun, adalah sebentuk himbauan Allah SWT kepada umatNya yang sudah cerai-berai menjauh dari jalan lurusNya. Sebuah seruan kasih sayang, agar kita kembali mendekat kepadaNya. Tunduk patuh kepada perintahNYa sekaligus meninggalkan segala laranganNya, sehingga kita sekalian mampu menjadi orang yang bertakwa kepada Allah SWT dan mendapat segala kemudahan dalam segala urusan yang kita kerjakan (Q.s. ath Thalaq : 4 ).***
-- H. Usep Romli HM. Budayawan, sastrawan, wartawan senior, penulis, ustadz. Tinggal di Garut, Jawa Barat.
Wednesday, January 19, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Post a Comment