Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Wednesday, January 19, 2011

Memelihara Syukur Nikmat

Oleh H. Usep Romli HM

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam bentuk seindah-indahnya. Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim (Q.s.at Tin : 4). Disempurnakan terus-menerus sejak proses penciptaan hingga mewujud di dunia, tersusun rapi menurut kedudukan dan fungsi setiap anggota tubuh yang amat padu dan harmonis secara pisik (Q.s.al Infithar : 7-8). Kemudian, Allah SWT melengkapinya jiwa manusia dengan empat komponen amat bermutu,  sebagaimana disebut dalam sebuah hadits Rasulullah Saw, sebagai “arba’atu jawahir” (empat mutiara). Yaitu al aqlu (akal), ad-dien (agama), ala haya-u (rasa malu), dan amalush shalihat (amal saleh).

Semua kelengkapan tersebut, menjadikan manusia mahluk istimewa lahir batin. Jauh menggungguli mahluk-mahluk lain yang hanya diberi polesan lahiriah belaka, tanpa dilengkapi kelengkapan batiniah. Sehingga manusia yang hanya seserpih serbuk terkecil di hamparan jagat raya amat besar dan luas ini, tampak menjulang tinggi melampaui gugusan-gugusan jutaan galaksi, apabila seluruh rangkaian raganya, seluruh komponen jiwanya, pasrah sumerah hanya kepada Allah SWT semata. “Dainunnah lillahi wahdah”. Selalu bersyukur atas segala nikmat yang dilimpahkan Allah SWT, karena ternyata segala karuniaNya melebihi semua yang telah diusahakan manusia. Jumlah nikmat yang diterima manusia tak mungkin dapat dihitung. Sampai-sampai Allah SWT menantang, agar manusia menghitung nikmat-nikmat yang diterimanya itu, niscaya tidak akan terhitung (Q.s. Ibrahim : 34), dan mempertanyakan hingga 30 (tiga puluh kali), mengapa manusia suka membohongkan nikmat-nikmat Allah SWT (Fa bi ayyi ala-i Robbikuma tukadzdziban)  yang disediakan bagi manusia (Q.s. ar Rahman)

Padahal upaya manusia sangat kecil. Nyaris tak ada artinya. Tak sebanding dengan jumlah nikmat yang diterimanya itu.

Modal awal berupa tubuh lengkap sempurna, dari ujung rambut hingga ujung kaki, ditambah “empat mutiara” penggerak jiwa, seharusnya menjadi sarana dalam melahirkan sikap syukur nikmat.

Karena itu, rasa dan sikap syukur nikmat harus dipelihara. Dipertahankan mati-matian. Jangan sampai menjadi korban  kufur nikmat agar tidak merugi dunia akhirat.

Salah satu cara mempertahankan syukur nikmat, adalah menjaga keajegan akal. Jangan sampai akal menjadi hilang akibat perbuatan-perbuatan tak senonoh. Seperti meminum minuman keras dan perbuatan terlarang (haram) lainnya, yang merusak kesadaran jatidiri kemanusiaan. Orang yang hilang akal, akan berbuat sewenang, baik kepada dirinya sendiri, mahluk lain, maupun Allah SWT. Orang hilang akal tak segan-segan merusak diri sendiri, atau merusak orang lain, dan menentang kemahakuasaan Allah SWT.

Jagalah ad-dien (agama) dengan cara mempelajari dan mengamalkannya. Mempelajari aturan-aturan agama, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, merupakan bagian dari syukur nikmat atas anugrah Allah SWT kepada semua orang yang beriman. Dengan mempelajari aturan-aturan agama, maka akan mengenal mana yang wajib, yang halal, haram, makruh atau mubah. Sehingga kita dapat melaksanakan yang diperintahkan, dan meninggalkan yang dilarang.

Jagalah al-haya-u (rasa malu). Malu karena terlihat aurat. Malu karena berbuat salah, dan buruk. Malu karena tidak mampu berbuat baik  dan benar. Rasa malu ini merupakan filter bagi setiap orang dalam bersosialisasi di lingkungannya sehari-hari. Jika rasa malu sudah lenyap, berarti tidak ada saringan lagi dalam berperilaku. Merasa bebas leluasa, sekehendak hati. Bebas menampakkan aurat, bebas berbuat salah, yang melanggar etika dan hukum formal. Bebas menolak perintah Allah SWT dan melanggar laranganNya.

Perbanyak amal soleh kepada sesama manusia. Bentuk amal soleh bermacam ragam. Prasarana dan sarananya pun beragam pula. Sering timbul salah anggapan, bahwa amal soleh selalu berkaitan dengan uang.  Padahal tidak selalu harus dengan uang. Memberi minum kepada orang kehausan,  termasuk amal soleh. Membantu seseorang mencarikan kerja atau sumber panghasilan yang halal, bahkan senyum manis, wajah ramah dan kata-kata santun kepada setiap orang, adalah amal soleh juga.

Itulah berbagai cara mudah untuk memelihara syukur nikmat kepada Allah SWT. Sebuah upaya yang dapat dimulai dan dikerjakan rutin kapan saja di mana saja, sebelum ajal datang maut menjemput.

Hasbunallahu wa ni’mal wakil ni’mal maula wan ni’man nashir.***
Share this article now on :

Post a Comment

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))