Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Tuesday, April 26, 2011

Rahasia Zuhud Hasan Al-Bashri

SALAH seorang ulama yang dikenal waro’ dan zuhud, Hasan Al-Bashri, ditanya tentang rahasia zuhud-nya. Ia menjawab,

“Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain. Karena itulah kalbuku selalu tenang. Aku tahu amal perbuatanku tidak akan dapat ditunaikan orang lain. Karena itulah aku sibuk mengerjakannya.

Aku tahu Allah SWT selalu mengamatiku, karena itulah aku selalu merasa malu bila Dia melihatku dalam keadaan maksiat. Dan aku tahu kematian itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah Azza wa Jalla”.

Setidaknya, ada empat hal yang dikemukakan Hasan Al-Bashri, yaitu soal rezeki, amal saleh, pengawasan Allah, dan kematian. Jika ditelaah, ungkapan Al-Bashri tentang keempat hal tersebut mengandung sejumlah hikmah yang patut kita camkan dan amalkan.

Rezeki kita tidak mungkin diambil orang lain. Kalau ada harta kita yang dicuri, berarti ia bukan rezeki kita. Rezeki adalah sesuatu yang sudah kita makan dan gunakan. Harta yang ada di tangan kita belum tentu merupakan rezeki kita, selama ia belum kita makan atau manfaatkan. Sikap kita terhadap rezeki semestinya adalah ikhtiar, berdoa, bersabar, dan menggunakan apa yang kita miliki di jalan Allah SWT. Bagi orang bertakwa, rezeki akan datang dari arah yang tidak diduganya (QS. 65:2).

Beramal saleh yang menjadi kewajiban kita, tidak mungkin dilakukan orang lain. Dosa pun tidak mungkin ditanggung orang lain. Kewajiban agama kita, seperti sholat, tidak bisa dikerjakan oleh orang lain. Harus kita sendiri yang melakukannya. Apalagi kewajiban itu bisa dilaksanakan sesuai dengan kemampuan kita.  (QS. 7:42). Amal saleh itu satu-satunya bekal kita dalam kehidupan di akhirat nanti.

Allah Swt. Maha Melihat dan Maha Mendengar. Dia selalu mengawasi gerak-gerik kita. Jika kesadaran akan pengawasan Allah itu selalu hadir pada diri kita, mustahil kita melakukan maksiat karena merasa malu kepada-Nya. Malu karena kita sudah menerima berbagai nikmat dan kasih-sayang-Nya.

Kematian yang pasti datang menimpa kita. Waktunya hanya Allah yang tahu (QS. 3:185). Setelah kematian itu kita akan dibangkitkan kembali untuk dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan kita selama hidup di dunia ini. Allah menciptakan kehidupan dunia ini, untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya (QS. Hud:7). Wallohu a’lam.*
Share this article now on :

Post a Comment

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))