Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Sponsored

Showing posts with label zuhud. Show all posts
Showing posts with label zuhud. Show all posts

Friday, February 3, 2012

Zuhud

Zuhud yaitu sikap tidak menjadikan dunia dan kehidupan materi sebagai tujuan, tapi hanya sebagai sarana beribadah. Pelakunya disebut zahid.

Secara etimologis, zuhud berarti raghaba ‘ansyai’in wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah.

Dunia dipandang sebagai sarana ibadah dan untuk meraih keridlaan Allah Swt., bukan tujuan tujuan hidup, dan di sadari bahwa mencintai dunia akan membawa sifat–sifat mazmumah (tercela). Keadaan seperti ini telah dicontohkan oleh Nabi Saw dan para sahabatnya.

Zuhud berarti tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah ada di tangan dan tidak merasa bersedih karena hilangnya kemewahan itu dari tangannya. Bagi

Menurut Abu Wafa al-Taftazani, zuhud itu bukanlah kependetaan atau terputusnya kehidupan duniawi, akan tetapi merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi itu. Mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan qalbunya dan tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. At-Taftazani menjelaskan, zuhud adalah tidak bersyaratkan kemiskinan. Bahkan terkadang seorang itu kaya, tapi pada saat yang sama ia pun zahid. Ustman bin Affan dan Abdurrahman ibn Auf adalah para hartawan, tapi keduanya adalah para zahid dengan harta yang mereka miliki.

Zuhud menurut Nabi serta para sahabatnya, tidak berarti berpaling secara penuh dari hal-hal duniawi. Tetapi berarti sikap moderat atau jalan tengah dalam menghadapi segala sesuatu, sebagaimana diisyaratkan firman–firman Allah: ”Dan begitulah Kami jadikan kamu (umat Islam) umat yang adil serta pilihan”; “Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu dari (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. (MuslimToday.net).*

Read More »
2:44 PM | 0 comments

Tuesday, April 26, 2011

Rahasia Zuhud Hasan Al-Bashri

SALAH seorang ulama yang dikenal waro’ dan zuhud, Hasan Al-Bashri, ditanya tentang rahasia zuhud-nya. Ia menjawab,

“Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain. Karena itulah kalbuku selalu tenang. Aku tahu amal perbuatanku tidak akan dapat ditunaikan orang lain. Karena itulah aku sibuk mengerjakannya.

Aku tahu Allah SWT selalu mengamatiku, karena itulah aku selalu merasa malu bila Dia melihatku dalam keadaan maksiat. Dan aku tahu kematian itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah Azza wa Jalla”.

Setidaknya, ada empat hal yang dikemukakan Hasan Al-Bashri, yaitu soal rezeki, amal saleh, pengawasan Allah, dan kematian. Jika ditelaah, ungkapan Al-Bashri tentang keempat hal tersebut mengandung sejumlah hikmah yang patut kita camkan dan amalkan.

Rezeki kita tidak mungkin diambil orang lain. Kalau ada harta kita yang dicuri, berarti ia bukan rezeki kita. Rezeki adalah sesuatu yang sudah kita makan dan gunakan. Harta yang ada di tangan kita belum tentu merupakan rezeki kita, selama ia belum kita makan atau manfaatkan. Sikap kita terhadap rezeki semestinya adalah ikhtiar, berdoa, bersabar, dan menggunakan apa yang kita miliki di jalan Allah SWT. Bagi orang bertakwa, rezeki akan datang dari arah yang tidak diduganya (QS. 65:2).

Beramal saleh yang menjadi kewajiban kita, tidak mungkin dilakukan orang lain. Dosa pun tidak mungkin ditanggung orang lain. Kewajiban agama kita, seperti sholat, tidak bisa dikerjakan oleh orang lain. Harus kita sendiri yang melakukannya. Apalagi kewajiban itu bisa dilaksanakan sesuai dengan kemampuan kita.  (QS. 7:42). Amal saleh itu satu-satunya bekal kita dalam kehidupan di akhirat nanti.

Allah Swt. Maha Melihat dan Maha Mendengar. Dia selalu mengawasi gerak-gerik kita. Jika kesadaran akan pengawasan Allah itu selalu hadir pada diri kita, mustahil kita melakukan maksiat karena merasa malu kepada-Nya. Malu karena kita sudah menerima berbagai nikmat dan kasih-sayang-Nya.

Kematian yang pasti datang menimpa kita. Waktunya hanya Allah yang tahu (QS. 3:185). Setelah kematian itu kita akan dibangkitkan kembali untuk dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan kita selama hidup di dunia ini. Allah menciptakan kehidupan dunia ini, untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya (QS. Hud:7). Wallohu a’lam.*

Read More »
4:13 PM | 0 comments