"Di sekitar Arsy-Nya ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka pun bercahaya. Mereka bukan para nabi dan syuhada, hingga para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka." Ketika para sahabat bertanya, Rasulullah menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah'." (HR. Tirmidzi).
Kita tentu tidak ingin seperti yang diingatkan imam Ja’far Shadiq: “Semua sahabat di dunia yang bukan karena Allah akan berubah menjadi musuh pada hari kiamat” (Tafsir Nurul Tsaqalain), berdasarkan sinyalemen Allah SWT:
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS Az-Zukhruf : 67)
Maka berhati-hati dan selektiflah mencari sahabat atau berteman. Untuk mendapatkan sahabat dunia-akhirat itu, Islam memberikan sejumlah rambu-rambu untuk kita patuhi. Rambu-rambu itu Dia turunkan melalui Al-Quran, hadits Nabi Saw, dan para sahabat serta ulama, di antaranya:
- "Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak." (HR. Bukhari).
- "Apabila dua orang laki-laki saling mencintai dan mengasihi di jalan Allah, yang satu berada di timur, sedangkan yang satu lagi berada di barat, maka Allah SWT akan mengumpulkan keduanya di hari kiamat dan berkata, "Inilah orang yang telah engkau cintai di jalan-Ku." (HR. Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas).
- Ali RA. berkata, "Jangan kau bersahabat dengan kawan yang bodoh, takutlah kamu terhadapnya. Betapa banyak orang bodoh membinasakan orang yang santun ketika bersaudara dengannya. Seseorang itu diukur dengan seseorang apabila mereka berjalan bersama. Sesuatu itu ada ukuran bagi sesuatu yang lain dan mirip. Hati punya petunjuk atas hati yang lain ketika bertemu."
- Imam Al Ghozali berkata, "Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya." (Tuhfatul Ahwadzi, 7/42)
- "Seseorang itu tergantung pada agama sahabatnya, maka perhatikanlah salah seorang dari kamu kepada siapa dia bersahabat." (HR. Abu Daud)
- "Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-geriknya teringat mati. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap tetangganya." (HR. Hakim)
- Hendaklah engkau bergaul dengan ahli ilmu (para ulama) dan dengarlah kata-kata para ahli hikmah, karena Allah SWT menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia suburkan bumi dengan hujan yang lebat. (Al-Hukama’).
- Pergaulan mempengaruhi didikan otak. Oleh itu, untuk kebersihan jiwa, hendaklah bergaul (berteman) dengan oarang-orang beradab dan berbudi mulia yang dapat kita kutip manfaatnya. (HAMKA)
- Nabi Sulaiman a.s. mengingatkan: “Janganlah kamu menilai orang sampai kamu melihat siapa sahabatnya. Orang hanya diketahui melalui kelompoknya dan sahabat-sahabatnya” (Al-Bihar).
- Teman baik akan mengingatkan kita saat alpa dan senantiasa siap membantu. Nabi Muhammad Saw mengingatkan: “Jika Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, Dia berikan kepadanya sahabat yang baik, jika alpa, ia mengingatkannya, jika ingat ia membantunya. (Biharul Anwar). Wallahu a'lam.
Post a Comment