Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Sponsored

Showing posts with label Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Sahabat. Show all posts

Tuesday, November 29, 2011

Mereka yang Dijamin Masuk Surga

SUATU hari setelah Rasulullah Saw selesai shalat Subuh, beliau menghadap ke arah sahabatnya dan bertanya: “Siapa di antara kalian yang berpuasa hari ini?” Umar menjawab: “Wahai Rasulullah, saya tidak berniat puasa tadi malam, maka pagi ini saya berbuka.”Abu Bakar berkata: “Tapi sempat berniat puasa tadi malam, sehingga pagi ini saya puasa.”

Rasulullah Saw bertanya lag: “Apakah ada di antara kalian yang hari ini telah menjenguk orang sakit?” Umar menjawab: “Wahai Rasulullah, kami belum keluar, bagaimana kami menjenguk orang sakit?” Abu Bakar berkata: “Aku mendapat kabar bahwa saudaraku Abdurrahman bin Auf sakit, maka saya sempat mampir ke rumahnya untuk mengetahui keadaannya pagi ini.”

Rasulullah Saw kembali bertanya: “Siapa di antara kalian yang telah memberi makan fakir miskin?” Umar menjawab: “Kami baru saja shalat wahai Rasulullah dan belum pergi kemana-mana.” Abu Bakar berkata: “Saat saya hendak masuk masjid, ada pengemis yang sedang meminta-minta. Kebetulan ada sepotong roti di tangan Abdurrahman (Putra Abu Bakar), maka saya ambil dan saya serahkan pada pengemis tadi.” Rasulullah Saw berkata: “Bergembiralah engkau (Abu Bakar) dengn jaminan surga.

Dialog ringan Rasulullah Saw dengan para sahabat di atas menggambarkan, para sahabat biasa berlomba-lomba dalam kebaikan. Ingin selalu menjadi yang terbaik dan pertama kali. Mereka tidak ingin hari-hari mereka diisi tanpa prestasi amal shalih. Lihat saja Abu Bakar dan Umar. Mereka saling berebut dalam kebajikan. Selalu ada ide dan selalu ingin paling awal. Itulah potret kehidupan para sahabat Nabi Saw.

Karenanya, wajar bila Rasulullah memberi kabar gembira kepada Abu Bakar dengan jaminan surga. Tak banyak yang mendapat jaminan itu. Setidaknya, selain Abu Bakar, ada sembilan lagi sahabat yang dijamin surga. Mereka adalah Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Ubaidah bin Jarrah,  Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’id bin Zaid, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.

Kesepuluh sahabat tersebut tentunya bukan sembarang orang. Mereka memiliki kemuliaan yang lebih dari yang lain. Perjuangan dan pembelaan mereka terhadap Islam tidak diragukan lagi. Harta bahkan jiwa dan raga mereka disumbangkan seluruhnya demi tegaknya Islam di bumi ini.

Abu Bakar, Umar bin Al Khathtab dan sahabat lainnya adalah sosok generasi terbaik di masa awal Islam. Ketika mereka ikut Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah (Yastrib), mereka adalah kalangan Muhajirin terbaik. Saat Perang Badar, mereka juga tentara terbaik. Mereka mempertaruhkan nyawa demi kejayaan Islam.

Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib adalah khalifah atau menjadi pemipin kaum Muslim (Khulafaur Rasyidin) pascafawatnya Rasulullah Saw. Yang lainnya menjadi pemuka Ahlu Al-Hall wal ‘Aqd, menteri kepercayaan khalifah, panglima perang,  pelopor kemuliaan, dan pemimpim pembebasan wilayah.

Dari kesepuluh sahabat tersebut, ada hal menarik dari salah satu mereka, dialah Abu Bakar. Ia mendapat gelar Ash-Shiddiq (orang yang selalu membenarkan). Gelar ini disematkan kepada lelaki berwajah tampan dan putih ini lantaran membenarkan setiap kali ucapan Rasulullah Saw.

Julukan itu semakin melekat kepadanya sesaat setelah Rasulullah melakukan Isra Mi’raj. Kala itu, ia didatangi kelompok musyrik dan ditanya: “Apa pendapatmu tentang cerita teman-temanmu itu? Ia mengaku telah diperjalankan tadi malam ke Baitul Maqdis!”.

Abu Bakar balik bertanya: “Dia mengatakan itu?” Mereka serempak mengiyakan. Abu Bakar berkata: “Kalau begitu, dia benar! Seandainya ia mengatakan lebih dari itu, tentang kabar dari langit, saya pasti akan membenarkannya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Tidak hanya itu, Abu Bakar juga berkata, “Jika Nabi Saw berkata, maka ia (berkata) benar”. (Hidayatullah.com Sumber: 10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga, Abdus Sattar As-Syaikh. Penerbit: Darus Sunnah Press).*

Read More »
2:44 AM | 0 comments

Friday, April 8, 2011

SAHABAT DUNIA-AKHIRAT: RAMBU-RAMBU PERTEMANAN

Sungguh indah jika kita punya sahabat dunia-akhirat. Di dunia berkawan dan saling membantu, di akhirat pun bersama dalam kenikmatan surgawi.

"Di sekitar Arsy-Nya ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka pun bercahaya. Mereka bukan para nabi dan syuhada, hingga para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka." Ketika para sahabat bertanya, Rasulullah menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah'." (HR. Tirmidzi).

Kita tentu tidak ingin seperti yang diingatkan imam Ja’far Shadiq: “Semua sahabat di dunia yang bukan karena Allah akan berubah menjadi musuh pada hari kiamat” (Tafsir Nurul Tsaqalain), berdasarkan sinyalemen Allah SWT:

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS Az-Zukhruf : 67)

Maka berhati-hati dan selektiflah mencari sahabat atau berteman. Untuk mendapatkan sahabat dunia-akhirat itu, Islam memberikan sejumlah rambu-rambu untuk kita patuhi. Rambu-rambu itu Dia turunkan melalui Al-Quran, hadits Nabi Saw, dan para sahabat serta ulama, di antaranya:

  • "Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak." (HR. Bukhari).



  • "Apabila dua orang laki-laki saling mencintai dan mengasihi di jalan Allah, yang satu berada di timur, sedangkan yang satu lagi berada di barat, maka Allah SWT akan mengumpulkan keduanya di hari kiamat dan berkata, "Inilah orang yang telah engkau cintai di jalan-Ku." (HR. Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas).



  • Ali RA. berkata, "Jangan kau bersahabat dengan kawan yang bodoh, takutlah kamu terhadapnya. Betapa banyak orang bodoh membinasakan orang yang santun ketika bersaudara dengannya. Seseorang itu diukur dengan seseorang apabila mereka berjalan bersama. Sesuatu itu ada ukuran bagi sesuatu yang lain dan mirip. Hati punya petunjuk atas hati yang lain ketika bertemu."



  • Imam Al Ghozali berkata, "Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya." (Tuhfatul Ahwadzi, 7/42)



  • "Seseorang itu tergantung pada agama sahabatnya, maka perhatikanlah salah seorang dari kamu kepada siapa dia bersahabat." (HR. Abu Daud)



  • "Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-geriknya teringat mati. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap tetangganya." (HR. Hakim)



  • Hendaklah engkau bergaul dengan ahli ilmu (para ulama) dan dengarlah kata-kata para ahli hikmah, karena Allah SWT menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia suburkan bumi dengan hujan yang lebat. (Al-Hukama’).



  • Pergaulan mempengaruhi didikan otak. Oleh itu, untuk kebersihan jiwa, hendaklah bergaul (berteman) dengan oarang-orang beradab dan berbudi mulia yang dapat kita kutip manfaatnya. (HAMKA)



  • Nabi Sulaiman a.s. mengingatkan: “Janganlah kamu menilai orang sampai kamu melihat siapa sahabatnya. Orang hanya diketahui melalui kelompoknya dan sahabat-sahabatnya” (Al-Bihar).



  • Teman baik akan mengingatkan kita saat alpa dan senantiasa siap membantu. Nabi Muhammad Saw mengingatkan: “Jika Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, Dia berikan kepadanya sahabat yang baik, jika alpa, ia mengingatkannya, jika ingat ia membantunya. (Biharul Anwar). Wallahu a'lam.


 

Read More »
3:35 PM | 0 comments