Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Wednesday, June 22, 2011

Dzikir Menunggu Waktu Isya

Assalamu’alailum tadz,, sy mau nanya, begini stlah beres shlat mghrib dan dzikir kami slalu brkumpul d msjid membaca fadhilah amal sambil menunggu wktu shlat isya, suatu ktika d sbuah pngajian ad seorng ustadz yg menyindir kami.. ustadz itu brkata: "mnurut sy ini mnurut sya, dr pd membaca buku setelah shalat mghrib lebih baik berdzkir, ini mnurut saya".

Padahal ustadz trsebut jarang ada di mesjid pada wktu mgrhrib sampai Isya. dari situ mulai ada perbincangan, apa kami mesti brdzikir sendiri menunggu wktu maghrib, atau seperti biasanya membaca fdhilah amal secara bersama-sama? trimaksih, mohon bntuannya! (aris_nur)

JAWAB: Wa’alaikum salam wr. Wb. Kami belum menemukan adanya keterangan tentang “amalan khusus” setelah Maghrib untuk menunggu waktu shalat Isya. Oleh karena itu, yang Anda lakukan –mengkaji ilmu agama-- sangat baik. Itu pun termasuk dzikir.

Langkanya keterangan tentang “menunggu waktu Isya” karena Nabi Saw lebih sering mengakhirkan waktu Isya. “Rasulullah Saw biasa mengakhirkan shalat Isya” (HR. Muslim) karena “Waktu shalat Isya' adalah hingga pertengahan malam.” (HR. Muslim).

“Rasulullah mengakhirkan shalat isya hingga malam sangat gelap sampai akhirnya Umar menyeru beliau, “Shalat. Para wanita dan anak-anak telah tertidur.” Beliau akhirnya keluar seraya bersabda, “Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menanti shalat ini kecuali kalian.” Rawi berkata, “Tidak dikerjakan shalat Isya dengan cara berjamaah pada waktu itu kecuali di Madinah. Nabi beserta para sahabatnya menunaikan shalat Isya tersebut pada waktu antara tenggelamnya syafaq sampai sepertiga malam yang awal.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keterangan tentang perilaku sahabat mengisi waktu antara Magrib dan Isya antara lain:  Anas Ibnu Malik r.a. berkata: pernah para shahabat Rasulullah Saw pada zamannya menunggu waktu Isya’ sampai kepala mereka terangguk-angguk (karena kantuk), lalu mereka shalat dan tidak berwudlu” (HR. Abu Dawud, Shahih menurut Daruquthni, dan berasal dari riwayat Muslim).

Dzikir itu maknanya luas, bisa berarti mengingat Allah dengan bacaan tertentu, misalnya tahmid atau tasbih, bisa juga berupa mengkaji ilmu agama karena dengan mengkaji atau mendalami ilmu agama (Islam) otomatis mengingat Allah (perintah dan larangan-Nya).

Dzikir bisa berarti atau berupa mengingat atau menyebut asma Allah (QS. Ar-Ra’du:28, Al-Ahzab:41-42, Ali Imran:191), Al-Quran (QS. Al-Hijr:9), ilmu pengetahuan/wawasan ilmu terutama ilmu agama (QS. An-Nahl:43), sholat (QS. Thaha:14), dan sholat Jumat (QS. Jumu’ah:9).

Imam Al-Maraghi berkata, “Ingatlah kepada Allah dengan hati kamu, lisan kamu, dan seluruh anggotamu dengan dzikir yang banyak dalam setiap keadaan kamu dengan penuh kesungguhan“.

Dzikir bisa dilakukan dalam banyak kondisi. “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran:191). Wallahu a’lam.*
Share this article now on :

Post a Comment

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))