Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Friday, July 15, 2011

Qona'ah, Ikhlas Menerima Pemberian-Nya

Qona’ah adalah salah satu sifat orang mukmin yang membuatnya merasa bahagia dan tentram dalam menjalani hidup. Sifat ini pula yang membuatnya tidak tamak (serakah) dan mampu menahan keinginan hawa nafsu duniawi.

Qona’ah adalah sikap menerima dengan ikhlas pemberian Allah SWT, apa adanya, dengan kondisi apa pun, dengan keyakinan itulah yang terbaik baginya sesuai iradah (kehendak) Allah SWT karena hanya Dia Yang Mahatahu yang terbaik bagi dirinya.

Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya” (HR. Muslim).

“Terimalah (dengan ridha) pembagian yang Allah tetapkan bagimu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

"Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup" (HR. Bukhari dan Muslim).

“Siapa di antara kalian yang merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan pada badannya, dan ia memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah ia telah memiliki dunia seluruhnya.” [HR Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Dalam kitab Syarah Shahih Muslim disebutkan, arti sabda “yang secukupnya” adalah “yang sekadar memenuhi kebutuhan, tidak lebih dan tidak kurang”.

Kata kuncinya adalah ikhlas menerima pemberian-Nya dan memenuhi “kebutuhan”, bukan memenuhi “keinginan”. Nasihat bijak mengatakan, untuk hidup bahagia, kita harus berusaha memenuhi kebutuhan (need), bukan mengejar keinginan (will).

Kebutuhan adalah yang kita perlukan untuk menjalani hidup. Keinginan adalah angan-angan, bahkan hawa nafsu, sehingga muncul istilah “keingian tiada akhirnya” karena setelah satu keinginan dicapai, keinginan lain akan muncul.

Namun, Qona’ah bukan berarti sikap pasrah atau nrimo begitu saja sehingga tidak dinamis. Jika ada hak yang tidak diterima, harus diperjuangkan! Jika ada peluang halal untuk mendapatkan rezeki lebih banyak, maka manfaatkan peluang itu, supaya mampu berinfak-sedekah demi membantu kaum dhuafa yang membutuhkan.

Menjadi kaya juga kebutuhan setiap mukmin karena ia butuh menjadi muzaki, munfik, atau donatur bagi pengembangan syiar Islam. Wallahu a’lam. (Abu Faiz).*
Share this article now on :

Post a Comment

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))