Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Sponsored

Showing posts with label Nasihat. Show all posts
Showing posts with label Nasihat. Show all posts

Tuesday, September 11, 2012

Berikan Nasihat, Jangan Tunggu Kesempurnaan!

nasihat“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian.

Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya.

Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya, kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya.

Namun, dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan.

Maka, terus-meneruslah berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kalian.

Bisa jadi, ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita, namun sangat bermanfaat bagi kita. Bertaqwalah kalian semua kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Imam Hasan Al-Basri).*

Read More »
11:30 AM | 0 comments

Saturday, September 17, 2011

Berilah Nasihat Tanpa Mempermalukan

* Adab Memberi Kritik dan Nasihat

ADA beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengingkari kemungkaran dengan lisan atau dengan nasihat, sebagaimana dikemukakan dalam Syarah ‘Arbain an-Nawawiyah.

Pertama, janganlah ikatan pertemanan, persaudaraan, dan lainnya yang ada di antara kita dengan orang lain membuat kita merasa enggan atau tidak enak hati untuk menasihati orang tersebut bila ia melakukan kemungkaran. Karena sesungguhnya, persaudaraan sejati adalah persaudaraan yang dilakukan karena Alloh, cinta dan benci pun karena Alloh.

Sahabat sejati bukanlah sahabat yang selalu membenarkan kita baik kita benar atau salah, akan tetapi sahabat sejati adalah sahabat yang mengingatkan kita ketika kita lupa, menegur kita ketika kita salah, dan menasihati kita kepada kebenaran dan mencegah kita dari kesesatan. Sungguh dewasa ini banyak orang yang meninggalkan nasihat-menasihati, maka semoga kita tidak menjadi bagian dari orang-orang tersebut.

Kedua, hendaklah nasihat itu dilakukan dengan cara yang baik, bukan dengan celaan dan hinaan, atau cara-cara kasar lainnya. Sungguh banyak manusia yang susah menerima nasihat, apalagi jika nasihat yang dilakukan dengan cara yang kasar, maka akan semakin kecil kemungkinan nasihat itu diterima.

Ketiga, hendaklah nasihat dilakukan bukan di depan umum atau di depan orang lain, akan tetapi lakukanlah nasihat dengan pribadi, dengan empat mata.

Sesungguhnya manusia tidak suka bila kesalahannya diketahui oleh orang lain, apalagi oleh orang banyak, maka jika engkau menasihati manusia di depan umum, maka seolah-olah engkau tengah membuka aibnya di depan umum, dan tentu orang tersebut akan tidak suka sehingga akan semakin kecil kemungkian dia menerima nasihatmu.

Keempat, tidak ada kewajiban bagi kita untuk memastikan seseorang yang kita nasihati untuk menerima nasihat kita. Kewajiban kita sebatas memberi nasihat sebaik mungkin, bila diterima itu yang terbaik baginya, dan bila ditolak maka itu urusannya dengan Robbnya.

Kelima, jangan lupa iringi nasihat dengan doa, agar orang yang kita nasihati mau kembali kepada kebenaran. Wallahu a’lam.

Read More »
12:42 AM | 0 comments

Friday, June 3, 2011

Enam Nasihat Imam Al-Ghazali

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan para muridnya. Ia mengajukan beberapa pertanyaan.

Pertama, apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini? Muridnya yang menjawab, orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan, semua jawaban itu benar, tetapi yang paling dekat dengan kita adalah mati.

Kedua, apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini? Muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Imam Ghozali menjelaskan, semua jawaban itu benar, tapi yang paling jauh adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apa pun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu, kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama.

Ketiga, apa yang paling besar di dunia ini? Muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Imam Ghozali menjelaskan, semua jawaban itu benar, tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah nafsu. Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Keempat, apa yang paling berat di dunia ini? Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Imam Ghozali menjelaskan, semua jawaban itu benar, tapi yang paling berat adalah memegang amanah (QS. Al-Ahzab:72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Kelima, apa yang paling ringan di dunia ini? Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Imam Ghozali menjelaskan, semua jawaban itu benar, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan sholat. Karena pekerjaan kita tinggalkan sholat, karena musyawarah kita tinggalkan sholat.

Keenam, apakah yang paling tajam di dunia ini? Muridnya menjawab dengan serentak, pedang! Imam Ghozali menjelaskan, jawaban itu benar, tapi yang paling tajam adalah lidah manusia. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.*

Read More »
1:35 PM | 0 comments

Sunday, May 29, 2011

Nasihat Itu Menghidupkan Hati

Saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran merupakan budaya kaum mukmin. Setelah beriman, beramal saleh, kaum mukmin diperintahkan saling memberi nasihat, saling berwasiat, sehingga mereka pun menjadi orang-orang yang beruntung.

”Demi masa. Sesungguhya, manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati dalam kebenaran dan nasihat-menasihati dalam kesabaran.” (QS Al-'Ashr: 1-3).

Nasihat adalah mengajak kebajikan dan melarang kemungkaran (‘amar ma’ruf nahyi munkar).

”Dan, hendaklah ada dari antara kamu segolongan umat yang berseru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran:104).

Nasihat itu menghidupkan hati, membangunkan kesadaran, mencegah kekhilafan.

“Berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu, bermanfaat bagi orang-orang mu’min" (QS. Adz-Dzariyat:55).

Karenanya, Rasullah Saw memerintahkan budaya saling menasihati ini.

“Bila salah seorang dari kamu meminta nasihat kepada saudaranya maka hendaknya (yang diminta) memberi nasihat.” (HR Bukhari).

Salah satu tiang tegaknya agama adalah nasihat. Tanpa saling menasihati antara umat Islam, maka agama tidak akan tegak.



“Agama adalah nasihat bagi Allah, bagi Rasul-Nya, untuk para pemimpin umat Islam dan untuk para orang awamnya.” (HR. Bukhari). Wallahu a’lam.*

 

Read More »
11:32 PM | 0 comments

Monday, May 16, 2011

Nasihat Adalah Cahaya

Nasihat sangat penting dalam kehidupan seorang mukmin. Ia berfungsi sebagai pengingat (tadzkirah) agar tetap istiqomah di jalan Allah SWT.

Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Nasihat itu memberi cahaya kepada hati."

Allah SWT menegaskan:

“Dan berilah peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman" (QS Adz-Dzariyat:55).

”Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik” (QS An-Nahl:125).

Saling menasihati --berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran-- termasuk ciri manusia yang tidak akan merugi hidupnya di dunia dan di akhirat, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-'Ashr:1-3.

"Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salah serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran". Wallahu a'lam.*

Read More »
11:49 AM | 0 comments