Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Sponsored

Showing posts with label Sedih. Show all posts
Showing posts with label Sedih. Show all posts

Friday, August 31, 2012

Empat Kesedihan Peningkat Derajat

sedihSa’id bin Musayyab r.a. bercerita, ketika menjabat Khalifah, Ali bin Abi Thalib r.a. suatu pagi bertemu dengan Salman Al-Faritsi r.a.

"Wahai ayahnya Abdullah, bagaimana kabarmu pagi ini?" tanya Ali.
"Wahai Amirul Mu'minin, memasuki pagi ini aku berada di antara empat
kesedihan," jawab Salman.

"Apa saja kesedihanmu itu?" tanya Ali.
"Pertama, aku sedih memikirkan keluarga yang menuntut roti kepadaku.
Kedua, sedih memikirkan perintah Allah kepadaku yang belum kulaksanakan. Ketiga, sedih memikirkan bujuk rayu syaitan yang licin terhadapku. Keempat, sedih memikirkan tuntutan malaikat terhadap ruhku," jawab Salman.

Ali pun berusaha menentramkan hati sahabatnya itu. "Wahai ayah Abdullah, bergembiralah keempat kesedihanmu itu justru meningkatkan derajatmu!".

Lalu Ali bercerita, suatu hari ia berjumpa dengan Rasulullah Saw. "Wahai Ali, bagaimana kabarmu pagi ini?" tanya Rasul. "Ya Rasulullah, aku berada di antara empat kesedihan.

Pertama, dirumahku tidak Ada apa-apa kecuali air sehingga aku sedih memikirkan anak-anakku.

Kedua, aku sedih memikirkan kelemahanku dalam taat kepada Allah.

Ketiga, aku sedih memikirkan akibat-akibat perbuatanku.

Keempat, aku sedih memikirkan tindakan malaikat pencabut ruh terhadapku," jawab Ali.

Mendengar jawaban demikian, Rasulullah Saw bersabda:
“Hai Ali, bergembiralah! Sesungguhnya sedih memikirkan keluarga merupakan tabir dari api neraka. Sedih memikirkan ketaatan kepada Allah adalah keselamatan dari siksa. Sedangkan sedih memikirkan akibat perbuatan itu merupakan jihad, sedangkan berjihad lebih utama dari pada ibadah 60 tahun. Sedih memikirkan tindakan malaikat pencabut nyawa adalah pelebur semua dosa". (HR. Muttafaq 'Alaih).*

Read More »
3:01 PM | 0 comments

Tuesday, June 26, 2012

Doa Penangkal Sedih dan Utang

doa utangDoa adalah senjata kaum mukmin dan andalan utama ketika kita dalam kondisi tidak berdaya. Sedih dan utang merupakan bagian dari masalah kehidupan sehari-hari. Semua orang tidak menghendakinya. Namun, jika hal itu menimpa, selain ikhtiar (usaha) agar menjauh dari keduanya, Rasulullah Saw mengajarkan sebuah doa.

Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a., diriwayatkan, pada suatu hari Rasulullah Saw memasuki masjid. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang sudah duduk lama di dalam masjid. Pemuda itu bernama Abu Umamah. Rasulullah Saw bertanya kepadanya : "Wahai Abu Umamah, mengapa aku melihatmu duduk di masjid pada waktu-waktu di luar shalat?"

Abu Umamah menjawab, "Aku sedang dilanda kesusahan dan dililit utang, wahai Rasulullah." Rasulullah kemudian bersabda kepadanya, "Ketauhilah, aku akan mengajarkan kepadamu ucapan yang apabila engkau mengucapkannya, maka Allah SWT akan menyingkirkan kesedihan dan membayarkan utang-utangmu. Ucapkanlah pada waktu pagi dan sore."
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ


 "Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazani wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasali wa a'udzubika minal jubni wal bukhli wa a'udzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijali"

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia." Kata Abu Umamah radhiyallahu 'anhu: "Setelah membaca do'a tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas semua hutangku." (HR Abu Dawud). Wallahu a'lam.*

Read More »
4:44 AM | 0 comments

Sunday, February 26, 2012

Obat Kesedihan

sedihKehidupan manusia tidak selamanya bahagia sehingga tidak lepas dari kesedihan, kesusahan, dan kesempitan. Setiap manusia memiliki cara tersendiri untuk mengatasinya.

Orang-orang beriman atau kaum Muslim memiliki cara tersendiri untuk menghilangkan kesedihan, antara lain sebagai berikut:

1. Meyakini bahwa kesedihan dan kesusahan itu taqdir oleh Allah. Dengan keyakinan itu, maka tenanglah hati kita dan lapanglah dada kita.

2. Berdo’a dengan doa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam menghadapi kesedihan. Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Mas’ud r.a. , Nabi Saw bersabda:

“Tidaklah seorang hamba tertimpa kesusahan dan kesedihan kemudian dia berdo’a 'Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuanMu, ubun-ubunku di tangan-Mu, berlaku kepadaku hukum-Mu, adil atasku Qadha-Mu (keputusan-Mu), aku meminta kepada-Mu dengan seluruh nama-nama-Mu (yaitu) yang Engkau namakan diri Engkau dengan nama tersebut, atau yang Engkau turunkan di kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada kepada salah satu hambaMu, supaya Engkau menjadikan al-Qur’an penyiram hatiku, cahaya dadaku, pengusir kesedihanku, penghilang kecemasan dan kegelisahan... kecuali Allah akan menghilangkan kesusahannya dan menggantinya dengan kesenangan.”

3. Sebagaimana dalam doa itu terkandung permintaan seorang hamba supaya Allah Ta’ala menjadikan al-Qur’an sebagai “Rabi’” bagi hatinya. Rabi’ adalah air hujan, maka Nabi Saw menyerupakan menyerupakan al-Qur’an dengan air hujan, karena sebagaimana air hujan menumbuhkan bumi, maka al-Qur’an pun menghidupkan hati.

Permintaan seorang hamba supaya Allah menjadikan al-Qur’an penghilang kesedihannya, karena kalau kesedihan dihilangkan dengan al-Qur’an, maka kesedihan tersebut tidak akan kembali.

Kesedihan dan kesempitan hati tidak akan bisa dihilangkan kecuali dengan tauhid dan pemahaman yang benar tentang Allah dan dengan al-Qur’an, yaitu dengan menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi hidup.

4. Kita juga diharuskan untuk menjauhi sebab-sebab munculnya kesedihan dan kesempitan hati, yaitu dengan menjauhi sikap berpaling dari Al-Qur’an sebagaimana firman Allah:

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha:124). Wallahu a’lam. (Sumber: Alsofwah.or.id).*

Read More »
11:30 AM | 0 comments