Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Sponsored

Showing posts with label Harta. Show all posts
Showing posts with label Harta. Show all posts

Thursday, April 5, 2012

Empat Golongan Manusia Penghuni Dunia

Diriwayatkan olah Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah Saw dalam sebuah haditsnya menyebutkan, dunia ini dihuni empat golongan manusia.

Pertama, seorang hamba diberi Allah Swt harta kekayaan dan ilmu pengetahuan, lalu bertakwa kepada Robbnya, menyantuni sanak-keluarganya, dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya, maka dia berkedudukan paling mulia.

Kedua, seorang yang diberi Allah ilmu pengetahuan saja, tidak diberi harta, tetapi dia tetap berniat untuk bersungguh-sungguh. Sebenarnya jika memperoleh harta dia juga akan berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka pahala mereka berdua ini adalah (kelompok pertama dan kedua) sama -- berkedudukan paling mulia.

Ketiga, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan, tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan. Dia membelanjakan hartanya dengan berhamburan (foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak mempedulikan hak Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji.

Keempat, seorang hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari Allah, lalu dia berkata, “Seandainya aku memiliki harta kekayaan, maka aku akan melakukan seperti layaknya orang-orang yang menghamburkan uang, serampangan, dan membabi-buta (kelompok yang ketiga),” maka timbangan keduanya sama -- berkedudukan paling jahat dan keji.

Dari hadits di atas, jelas orang paling mulia adalah kelompok pemilik harta dan ilmu, lalu mempergunakan harta dan ilmunya di jalan Allah Swt. Termasuk kelompok paling mulia adalah orang yang hanya berilmu, tanpa harta, namun jika memperoleh harta, ilmu dan hartanya akan ia gunakan juga di jalan Allah Swt.

Kelompok paling hajat dan keji adalah pemilik ilmu, harta, atau ilmu dan harta, namun ilmu dan hartanya tidak dipergunakan di jalan Allah Swt. Wallahu a’lam. (Mel/ddhongkong.org).*

Read More »
4:37 AM | 0 comments

Wednesday, June 8, 2011

Rezeki Bukan Cuma Harta

Kita bekerja dan berdoa memohon rezeki.  Harus diingat, rezeki bukan hanya berupa uang atau harta benda, namun juga ilmu, wawasan, keterampilan, kecerdasan otak, kefasihan bicara, dan kesehatan.

Udara (oksigen) yang kita hirup, kebutuhan air, cahaya matahari, hasil hutan, hasil bumi/tambang, atau apa pun yang dapat diambil manfaatnya adalah rezeki. ”Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya,” tegas ulama kenamaan dari Mesir, Syekh Mutawalli Asy-Sya'rawi.

Itulah sebabnya, balasan Allah SWTatas sedekah uang yang dilakukan orang tidak harus berupa uang juga. Bisa jadi balasan itu berupa terhindarnya seseorang dari penyakit atau mara bahaya, atau perasaan tentram di dalam jiwa, atau kehidupan yang penuh dengan keberkahan dan kemanfaatan, dan lain-lain.

Hakikatnya yang disebut rezeki adalah sesuatu yang sudah kita rasakan manfaatnya atau sudah dipergunakan. Makanan yang ada di kulkas belum tentu rezeki kita, sebelum kita memakannya. Demikian pula minuman sebelum kita minum dan pakaian sebelum kita kenakan.
Uang yang ada di saku, dompet, atau rekening kita juga belum tentu rezeki kita, karena bisa saja hilang atau kita meninggal dunia sehingga uang itu berpindah kepemilikan, misalnya kepada ahli waris atau orang lain.

Uang baru disebut rezeki kita jika sudah dibelanjakan dan belanjaan itu sudah kita nikmati. Ia juga baru bisa disebut rezeki jika sudah kita belanjakan di jalan Allah dengan zakat, infak, dan sedekah. Bahkan, infak di jalan Allah termasuk Amal Jariyah berarti menjadikan uang itu sebagai ”rezeki dunia-akhirat” karena pahalanya terus mengalir hingga ke alam akhirat.

Yang pasti, Allah SWT menjamin ada rezeki bagi setiap makhluk-Nya (QS. 11:6). Tugas kita adalah ikhtiar, doa, dan tawakal untuk menjemput rezeki itu. Wallahu a’lam.*

Read More »
1:35 PM | 0 comments

Tuesday, March 29, 2011

Harta yang Berkah

BERKAH (barokah, berkat) memiliki dua arti: (1) tumbuh, berkembang, atau bertambah; dan (2) kebaikan yang berkesinambungan. Menurut Imam Nawawi, asal makna berkah ialah “kebaikan yang banyak dan abadi" (Syarah Shahih Muslim).

Harta atau rezeki yang berkah adalah harta yang bertambah dan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat. Untuk mencapainya, ada dua jalan, yakni mendapatkannya dengan cara halal, tidak curang atau batil, dan dengan membersihkannya dari hak orang lain (dikeluarkan zakatnya) serta menginfakkannya di jalan Allah (sedekah).

Selain itu, jadikan harta sebagai sarana beribadah kepada Allah SWT. Jangan sampai harta habis dikonsumsi di dunia, tanpa menabungkannya berupa pahala di akhirat kelak.

Rasulullah Saw bersabda: “Bersedekahlah kalian karena sesungguhnya sedekah dapat menambah harta yang banyak. Maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah Swt melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian” (Al-Wasail).

"Sesungguhnya harta itu indah dan manis. Barangsiapa menyambutnya dengan murah hati (ridha), maka ia akan memperoleh berkah. Dan barangsiapa mengambilnya dengan tamak serta curang, maka ia tidak akan memperoleh berkah. Ia seperti orang yang makan, tapi tidak pernah kenyang." (HR Muslim).* Wallahu a’lam.

Read More »
7:51 AM | 0 comments

Saturday, February 19, 2011

HARTA ITU SARANA IBADAH, BUKAN TUJUAN

Bagi seorang Muslim, harta bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk beribadah kepada Allah SWT. Harta yang dimiliki dapat membuat seorang Muslim berbahagia dunia-akhirat dengan cara mempergunakannya di jalan Allah: menafkahi diri dan keluarga, membantu kerabat, membayar zakat, infak, sedekah, mendanai pembangunan masjid, mushola, sarana pendidikan, membantu fakir miskin atau kaum dhuafa lainnya, menolong sesama yang mengalami kesulitan ekonomi, mendukung syiar dakwah dan perjuangan kaum Muslimin, dan sebagainya.

Sekadar gambaran pahala ibadah dengan harta, Rasulullah Saw berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib: “Wahai Ali! Siapa yang memberi makan kepada seorang muslim dengan senang hati, niscaya Allah menuliskan baginya 1.000 kebajikan, menghapuskan 1.000 kejahatan, dan diangkat 1.000 derajat”.

Dana zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan kaum kaya bisa menjadi sumber dana pengembangan ekonomi umat, pemberdayaan iman dan takwa umat, pengentasan kemiskinan, pembangunan akhlak, keilmuan, dan keterampilan mereka, juga menjadi sumber dana penyediaan sarana dan prasarana dakwah yang dibutuhkan masyarakat Islam. Wallahu a'lam.*

Read More »
1:35 PM | 0 comments