Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Sponsored

Showing posts with label Iman. Show all posts
Showing posts with label Iman. Show all posts

Tuesday, February 28, 2012

Agar Iman Kita Tidak Mati

imanSALAH seorang sekretaris Rasulullah Saw, Handzalah, bercerita: Abu Bakar pernah menemuinya dan bertanya, “Bagaimana dengan kamu, wahai Handzalah?”. Handzalah menjawab, “Handzalah telah munafiq!”.

Abu Bakar merasa kaget dengan “pengakuan” Handzalah itu. “Subhanallah! Apa yang kau katakan tadi?” Handzalah menjelaskan, “Kami berada di sisi Rasulullah yang sedang mengingatkan kami tentang surga dan neraka, seolah keduanya terlintas di depan mata, akan tetapi setelah kami keluar dari sisi beliau dan kembali kepada anak, istri, serta berbagai masalah, kami banyak melupakannya”.

“Demi Allah,” timpal Abu Bakar. “Sesungguhnya kita menemui kasus seperti itu”. Kedua sahabat itu lalu menemui Rasulullah dan mengatakan Handzalah telah munafik. “Apa maksudmu?” tanya Rasulullah. Handzalah menjawab seperti yang dikemukakannya kepada Abu Bakar.

KISAH yang diceritakan Abu Rib’i Handzalah bin Ar-Rabi Al-Usaidi dan diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih Muslim itu mengandung pesan mendalam bagi kita, sekaligus menggambarkan kondisi sebagian umat Islam masa kini.

Hendaknya kita selalu mengingat kehidupan akhirat, sehingga terus berdzikir dan beramal saleh, di mana pun kita berada. Handzalah mengingat kehidupan akhirat ketika mengikuti “pengajian” dengan Rasulullah. Namun ketika di luar itu, ia banyak melupakannya, sehingga ia menyesali diri dan menyebut dirinya munafik.

Handzalah seakan mengingatkan kita, saat ini banyak di antara kita mengingat akhirat, siksa dan pahala, hanya ketika kita mengikuti pengajian, ceramah agama, khotbah jumat, atau membaca buku-buku tentang itu. Di luar itu, ketika kita sibuk mencari nafkah, berada di luar majelis taklim atau jauh dari masjid, kita banyak melupakan akhirat. Akibatnya, perbuatan kita banyak melanggar aturan Allah dan sibuk mencari kesenangan duniawi dengan melupakan bekal untuk akhirat.

“Kita telah munafik!” itu mesti kita akui, jika kita hanya mengingat Allah ketika di masjid atau majelis taklim, dan di luar itu kita banyak melupakan-Nya.

Dapat dibayangkan, bagaimana parahnya kondisi keimanan kita, jika kita jarang atau tidak pernah mengikuti pengajian, tidak menghadiri majelis taklim, tidak mau mendengarkan ceramah, tidak suka baca Quran, dan hanya sibuk dengan urusan dunia?

Apa jadinya iman kita jika tidak disirami dengan cahaya kebenaran Islam, lewat seruan para da’i, mubalig, atau bacaan Islami? Apa jadinya iman kita jika yang kita dengar, lihat, baca, dan rasa hanya musik, bacaan, dan hal-hal yang melalaikan kita dari Allah Swt? Wallahu a’lam.*

Read More »
11:17 AM | 0 comments

Saturday, May 28, 2011

Kunci Kebahagiaan: Berbuat Baik

Banyak cara menuju kebahagiaan. Bahkan, tidak sedikit orang mencari kebahagiaan dengan cara yang salah, melanggar aturan Allah SWT. Akibatnya, kebahagiaan itu semu belaka, hanya sesaat, lalu ia merasa resah dan gelisah lagi.

Sesungguhnya Islam memberi panduan bagi umatnya untuk meraih kebahagaiaan itu, yakni berbuat kebaikan berdasarkan iman kepada Allah SWT. Kehidupan yang baik adalah balasan bagi orang beriman dan berbuat baik.

"Siapa saja yang beramal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman maka Aku akan hidupkan mereka dalam kehidupan yang baik." (QS. An-Nahl:97).

"Siapa saja beriman kepada Allah dan hari Akhir serta beramal shaleh mereka tidak pernah takut dan tidak pernah bersedih." (QS. Al-Maidah: 69).

Perbuatan baik (amal saleh) adalah amalan yang tidak merusak; perilaku yang bermanfaat bagi diri dan orang lain. Shalat, zakat, puasa, haji, dzikir, sedekah, menolong sesama, menuntut ilmu, baca Quran, berbakti kepada orangtua, mencari rezeki halal, dan senyum kepada sesama adalah kebaikan dalam perspektif Islam.

Semua amalan baik itu akan berbuah kehidupan yang baik dan menjadikan seorang mukmin tidak pernah merasa takut dan sedih. Bagaimanapun, perbuatan baik selalu mendatangkan kedamaian dalam hati. Sebaliknya, perbuatan buruk (kemaksiatan) mengundang datangnya keresahan dan kegalauan dalam hati. Wallahu a’lam. (Mel/ddhongkong.org).*

Read More »
11:23 AM | 0 comments

Monday, May 2, 2011

Iman Hilang Saat Berbuat Dosa?

Benarkah iman seseorang hilang ketika ia berbuat dosa? Bagaimana ia menemukannya kembali? Mohon pencerahannya.

JAWAB: Ya benar. Begitulah yang disabdakan Nabi Saw. Orang beriman tidak mungkin melakukan maksiat karena iman mendorong perbuatan baik saja. Maka, ketika ada muslim berbuat dosa, dipastikan saat itu imannya hilang.

“Tidak akan berzina seorang pelacur di waktu berzina jika ia sedang beriman, dan tidak akan minum khamr di waktu minum jika ia sedang beriman, dan tidak akan mencuri di waktu mencuri jika ia sedang beriman.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keimanannya kembali ketika beristighfar (meminta ampun kepada Allah SWT) dan bertobat, tidak mengulanginya. Keimanannya diperbaharui ketika ia kembali melaksanakan ajaran Islam, utamanya saat shalat yang di dalamnya ada bacaan syahadat (dalam tahiyat). Wallahu a’lam.*

-- Konsultasi Singkat Islam (KSI). Diasuh oleh Tim Asatidz Pusdai Jabar. Pertanyaan via SMS ke 022 695 61 799. Email: infopusdai@yahoo.com. Dimuat di Buletin USWAH Pusdai Jabar, terbit tiap Jumat.

Read More »
3:46 AM | 0 comments

Iman Kita Bisa Naik-Turun?

Apa benar iman kita itu bisa bertambah dan berkurang alias naik-turun? Bagaimana bisa? Bagaimana biar iman kita stabil dan bertambah terus? Terima kasih.

JAWAB: Ya benar. Salah satu ciri orang beriman adalah bertambah imannya ketika mendengarkan atau dibacakan ayat-ayat Allah SWT (QS. 8:2). Iman seseorang berkurang bahkan hilang ketika ia berbuat maksiat (HR Bukhari dan Muslim).

Dalil yang menjelaskan naik-turun atau tambah-kurangnya iman antara lain:

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)....” (QS. Al-Fath/48: 4) .

“...dab jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya)....” (QS. Al-Anfāl/8: 2).

“Dan bila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapa di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.” (QS. At-Tawbah/9:124) .

Ayat di atas jeas menyebutkan bertambahnya uman. Meski tidak secara eksplisit menyebutkan berkurangnya iman, namun dengan ditetapkan kata “betambah” berarti mencakup pula kata “berkurang”.

Agar iman stabil, bahkan terus bertambah, maka laksanakan segala perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya, sering dzikir dan baca Quran, menghadiri majelis ilmu (pengajian), dan bergaullah dengan orang-orang shaleh dan lingkungan Islami (religius). Para ulama mengingatkan, teman bergaul juga menentukan pola pikir dan akhlak atau perilaku kita. Wallahu a’lam.*

-- Konsultasi Singkat Islam (KSI). Diasuh oleh Tim Asatidz Pusdai Jabar. Pertanyaan via SMS ke 022 695 61 799. Email: infopusdai@yahoo.com. Dimuat di Buletin USWAH Pusdai Jabar, terbit tiap Jumat.

Read More »
3:45 AM | 1 comments

Thursday, April 14, 2011

Iman Pasti Melahirkan Amal Saleh

Iman selalu melahirkan amal saleh. Jika tidak, keimanannya palsu, karena –menurut jumhur ulama– iman itu bermakna “mengikrarkan dengan lisan, membebarkan dalam hati, dan mengamalkannya dengan anggota badan” (ikrarun bil lisan, tashdiqun bil qolbi, wa ‘amalun bir arkan).

Sejumlah ayat dan hadits berikut ini menyebutkan iman pasti melahirkan amal saleh, seperti shalat, zakat, sedekah, menolong sesama, menegakkan kebenaran Ilahi, dan mencegah kemunkaran.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah maka gemetarlah hati mereka, dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” (QS. Al-Anfal: 2-4).

“Iman itu 70 cabang lebih atau 60 cabang lebih. Yang paling utama adalah ucapan “laa ilaaha illallaah” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari tengah jalan, sedang rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim).

“Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya (otoritas), jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya, dan yang demikian itu (mengubah dengan hati) adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim). Wallahu a'lam.*

Read More »
1:42 AM | 0 comments

Sunday, January 9, 2011

Tidak Punya Malu, Sebagian Iman Hilang!

“Malu itu sebagian dari iman” (HR. Muttafaq ‘Alaih). “Sesungguhnya sebagian yang didapatkan manusia dari perkataan nabi-nabi terdahulu ialah ‘Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR. Bukhari).

Malu adalah perasaan untuk tidak ingin direndahkan atau dipandang buruk oleh pihak lain. Jadi, malu adalah persoalan harga diri atau gengsi. Malu yang paling utama adalah malu kepada Allah SWT sehingga tidak berbuat sesuatu yang melanggar aturan-Nya.

Malu kepada manusia harus dalam konteks malu kepada-Nya. Jadi, misalnya, mestinya kita merasa malu mempertontonkan aurat karena Allah SWT memerintahkan kita menutupinya. Kita harus malu jika tidak shalat, jika tidak bersyukur, tidak beribadah, dsb. karena Allah sudah sangat begitu baik kepada kita.... Wallahu a’lam.*

Read More »
3:37 AM | 0 comments