Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Sponsored

Showing posts with label Rapat. Show all posts
Showing posts with label Rapat. Show all posts

Friday, September 23, 2011

Ihwal Meluruskan dan Merapatkan Barisan Shalat Berjamaah

Bagaimana sebenarnya meluruskan shaf (barisan) dalam shalat berjamaah? Apakah shalatnya sah jika barisannya tidak rapat dan lurus?

JAWAB: Kelurusan dan kerapatan shaf dalam shalat jama’ah merupakan bagian dari kesempurnaan shalat berjamaah. Karena itu, seorang imam disunnahkan untuk ikut mengatur dan merapatkan barisan shalat jama’ahnya sebelum mulai shalat.

Meskipun shalatnya tetap sah jika shaf tidak lurus (karena merapatkan-meluruskan barisan tidak termasuk syarat sah shalat berjamaah), namun Rasulullah Saw sangat menekankan pentingnya merapatkan-meluruskan shaf sebagaimana dalam hadits-hadits berikut ini.

"Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Rabb mereka?" Maka kami berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Rabb mereka?" Beliau menjawab: "Mereka menyempurnakan barisan-barisan [shaf-shaf], yang pertama kemudian [shaf] yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan" (HR. Muslim, An-Nasa'i, dan Ibnu Khuzaimah).

Barangsiapa yang menutup kekosongan, Allah akan mengangkat derajatnya dengan hal tersebut dan akan dibangunkan sebuah istana di surga untuknya” (HR. Abu Dawud)

Buatlah shaf-shaf, karena sesungguhnya kalian berbaris sebagaimana barisannya para malaikat. Dan sejajarkan di antara bahu-bahu, isilah kekosongan, dan hendaklah kalian memberikan kesempatan orang lain untuk ikut masuk dalam shaf, dan janganlah kalian meninggalkan celah-celah untuk syaitan, barangsiapa yang menyambungkan shaf maka Allah akan menyambungkannya. Dan barangsiapa yang memutuskan shaf maka Allah akan memutuskannya” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’i).

Dahulu Rasullullah meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan anak panah hingga beliau memandang kami telah paham apa yang beliau perintahkan kepada kami (sampai shaf kami telah rapi), kemudian suatu hari beliau keluar (untuk shalat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau bersabda: "Wahai para hamba Allah, sungguh kalian benar-benar meluruskan shaf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian". (HR. Muslim).

"Tegakkan [luruskan dan rapatkan, pent-] shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku." (HR. Bukhari dan Muslim)

"Dan salah satu dari kami menempelkan bahunya pada bahu temannya dan kakinya pada kaki temannya." (HR. Bukhari).

Berdirilah secara bershaf-shaf niscaya Allah mengokohkan barisan-barisanmu (persatuan di kalangan umat Islam), atau jika tidak maka Allah akan menjadikan hati-hatimu saling berselisih. Lalu Rasulullah melanjutkan sabdanya: Aku melihat seorang lelaki di antara kami menempelkan bahunya ke bahu temannya dan mata kakinya ke mata kaki temannya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan Daruqutni).

Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah berdiri di tempatnya untuk shalat, tidaklah terus beliau bertakbir, sebelum beliau melihat ke kanan dan ke kiri menyuruh manusia menjajarkan bahu mereka seraya bersabda: janganlah kamu maju mundur (tidak lurus), yang menyebabkan maju mundurnya jiwa-jiwa kamu” (HR. Ahmad).

Dari hadits-hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf pada waktu shalat berjama’ah karena hal tersebut termasuk kesempurnaan shalat. "Luruskan shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat." (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah, dari Anas bin Malik). Wallahu a’lam.*

Read More »
3:10 AM | 0 comments

Wednesday, August 11, 2010

Lagi, Soal Shalat Jamaah Sentuhan Jari Kaki

Saya juga merasakan seperti itu juga bila sholat berjamaah harus bersentuhan jari kelingking merasa geli dan tidak dapat berkonsentrasi sholat, mungkin ada penjelasan lain yang lebih pasti atas penjelasannya? terima kasih. (Agung, via Pusdai.com).

JAWAB: Seperti sudah dijelaskan, rapat dan rapi dalam shaf (barisan) shalat berjamaah itu bagian dari kesempurnaan atau keutamaan shalat (min tamamish sholah). Rasul mengajarkan demikian: rapat dan rapi. Namun, itu tidak menjadi bagian dari rukun dan syarat sah shalat jamaah. Artinya, tidak rapat/rapi pun tetap sah shalatnya, namun tidak sempurna.

Namun demikian, jika sentuhan jari kaki itu menyebabkan shalat tidak khusyu, maka hindari saja, tapi jangan terlalu jarang, mungkin jarak satu cm, toh khusyu’ lebih utama daripada sentuhan jari kaki demi rapat/rapi. Wallahu a’lam.*

Read More »
3:58 AM | 0 comments

Tuesday, July 6, 2010

Sentuhan Jari Kaki, Jadi Tidak Khusyu’

Saya merasa nggak nyaman kalau sentuhan kaki/kelingking dgn orang sebelah saya, saya jadi nggak konsentrasi, orang itu terus mencari kaki dan menunduk utk mencari kelingking saya tapi pundak malah tidak berdekatan. Kadang saya pingin ngomong bahwa saya jadi tidak bisa konsentrasi, setelah sholat, tapi say nggak enak. Kadang saya pingin nginjak kakinya supaya konsentrasi nggak mencari kaki dan saya terganggu.

Bolehkah saya batalkan sholat untuk pindah tempat? Seharusnya kalau saya sudah menggeser kaki dia merasa bahwa saya bukan penganut kaki harus bersentuhan.
Saya kadang juga terganggu dengan keringat yang menusuk. Hal2 seperti ini sering merusak konsentrasi. Saya merasa sholat saya sdh jelek ditambah perasaan tidak nyaman. Sepertinya sholat di rumah malah lebih baik. Bernarkah saya ini. Sudikah menjawab ini ke email saya. Saya benar2 ingin minta bantuan persoalan saya ini. Wass. Zanni.

JAWAB: Rapat dan rapi dalam shaf shalat jamaah memang harus, bagian dari kesempurnaan shalat jamaah, tapi tidak menjadi syarat sah dan rukun shalat. Jika sampai mengganggu konsentrasi atau kekhusyuan, utamakan khusyu’, karena longgarnya shaf tidak menyebabkan batalnya shalat.

Syarat sah shalat: 1. Niat, 2. Muslim, 3. Berakal, 4. Tamyiz (dewasa, dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk), 5. Menghilangkan hadats, 6. Menghilangkan najis, 7. Menutup aurat, 8. Masuknya waktu, dan 9. Menghadap kiblat. Rukun shalat: 1. Berdiri bagi yang mampu, 2. Takbiiratul-Ihraam, 3. Membaca Al-Fatihah, 4. Ruku', 5. I'tidal setelah ruku', 6. Sujud dengan anggota tubuh yang tujuh, 7. Bangkit darinya, 8. Duduk di antara dua sujud, 9. Thuma'ninah (Tenang) dalam semua amalan, 10. Tertib/berurutan gerakannya, 11. Tasyahhud Akhir, 12. Duduk untuk Tahiyyat Akhir, 13. Shalawat untuk Nabi Saw, 14. Salam dua kali.

Namun demikian, upayakan seoptimal mungkin untuk rapat dan rapi. Buatlah ia ”enjoy aja...”. Lurus dan rapat sebagaimana dicontohkan para sahabat adalah dengan saling menempelkan pundak dengan pundak temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kaki dengan mata kaki temannya.

"Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya pelurusan shaf-shaf itu sebagian dari kesempurnaan shalat" (HR. Bukhori & Muslim). Berkata Nu'man Bin Basyir: "Maka aku melihat seseorang menempelkan pundaknya dgn pundak temannya, lututnya dgn lutut temannya, dan mata kaki dengan mata kaki temannya” (HR. Abu Dawud).

Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini: wajib dan sunah saja. Imam Bukhari, Imam Ibnu Hajar, dan Imam Ibnu Taimiyah, mengatakan merapatkan shaf itu wajib. Ulama lain --seperti Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Malik-- mengatakan merapatkan shaf hukumnya sunah. Imam An-Nawawi mengklaim para ulama telah ijma’ atas kesunahannya: “Ulama telah ijma’ (aklamasi) atas sunahnya meluruskan shaf dan merapatkan shaf” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim).

“Aqimush shaf (tegakkan barisan) karena tegaknya shaf merupakan bagian pembagusnya shalat” (HR. Bukhari & Muslim). “Hadits ini adalah dalil bahwa meluruskan shaf tidak wajib. Dia adalah sunah yang disukai,” demikian dikatakan Al-Qadhi ‘Iyadh (Ikmal Al Mu’allim Syarh Shahih Muslim). Wallahu a’lam.*

Read More »
8:13 AM | 1 comments