Assalamu'alaikum! | About Us | Contact | Register | Sign In

Sponsored

Showing posts with label Ukhuwah. Show all posts
Showing posts with label Ukhuwah. Show all posts

Monday, November 28, 2011

Spirit Hijrah: Semangat Ukhuwah dan Wirausaha

"Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya". Kalimat itu diucapkan seorang sahabat Rasulullah, Sa'ad bin Rabi, kepada sahabat lainnya, Abdurrahman bin 'Auf. Sa'ad tak bermaksud pamer dan sombong, tapi hendak meyakinkan Abdurrahman agar mau menerima tawarannya.

"Silakan pilih separuh hartaku dan ambillah," tegas Sa'ad. Tidak hanya itu, Sa'ad menambah penawarannya. "Aku pun mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian Anda, akan kuceraikan ia hingga Anda dapat memperistrinya." Abdurrahman menolak halus tawaran tulus nan menggiurkan itu. Malah ia minta ditunjukkan letak pasar. Ia menolak ikan, tapi mau kail agar bisa memancing sendiri.

"Semoga Allah memberkati Anda, istri, dan harta Anda. Tunjukkanlah letak pasar agar aku dapat berniaga." jawabnya. Rekaman peristiwa dan dialog antara Sa'ad dan Abdurrahman itu, sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik, terjadi saat Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah.

Sa'ad adalah penduduk Madinah, sedangkan Abdurrahman termasuk kaum Muhajirin. Sa'ad bukan satu-satunya kaum Anshar yang menjadi penolong kaum Muhajirin.

Fragmen kisah hijrah yang melibatkan Sa’ad dan Abdurrahman bin ‘Auf itu setidaknya mengajarkan dua hal: keindahan ukhuwah Islamiyah dan semangat wirausaha!

Semangat ukhuwah menumbuhkan kasih sayang dan semangat saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Setiap Muslim memang bersaudara. Innamal mu’minuuna ikhwah! Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara (QS.49:10).

Abdurrahman bin Auf memberi teladan wirausaha (entrepreneurship). Dengan semangat wirausahanya, ia memilih berdagang untuk mencari nafkah hidupnya ketimbang menerima belas kasihan orang lain. Wallahu a'lam. (Mel/ddhongkong.org).*

Read More »
3:21 AM | 0 comments

Wednesday, November 17, 2010

Spirit Ukhuwah dan Rela Berkorban

* Intisari Hikmah Idul Adha

Ibadah haji mengajarkan kesiapan mental-fisik untuk menjalani kehidupan dengan tuntunan dan tuntutan Islam. Tauhidullah dan syariat Islam yang ditegakkan dan didakwahkan Nabi Ibrahim a.s., Nabi Muhammad Saw, juga nabi dan rasul lainnya, wajib kita imani, pahami, amalkan, dakwahkan, perjuangkan, dan bela!

Ibadah haji juga mengajarkan kesamaan, kesetaraan, dan persaudaraan umat manusia. Maka, promosikan ukhuwah di kalangan manusia, khususnya sesama kaum Muslim!

Semua manusia sama dalama pandangan Allah. Hanya takwa yang membedakannya. Taka tercermin dalam akhlak karimah atau perangai yang baik. Tidak peduli apa pun pekerjaan dan jabatannya, yang membuat seseorang mulia bukan pekerjaan atau jabatan, tapi ketakwaannya, akhlaknya!

Pakaian ihram jamaah haji mengandung pesan: suatu saat, cepat atau lambat, kita akan hanya berbusana kain kafan nan putih. Hanya amal saleh yang menjadi bekal dan penolong kita di alam akhirat kelak.

Ibadah kurban mengajarkan semangat berkorban apa saja, demi tegaknya syi’ar Islam dan ketaatan kepada perintah Allah Swt. Jiwa, raga, atau diri kita dan harta yang kita miliki, hakikatnya titipan atau amanah dari Allah Swt. Maka, gunakan tenaga, pemikiran, harta, jabatan, atau apa pun yang kita miliki, demi dakwah Islam dan ibadah kepada Allah Swt.

Harta adalah amanah sekaligus fasilitas ibadah kepada Allah. Harta bukan tujuan, tapi sarana ibadah. Maka, alangkah meruginya orang berharta yang tidak menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. Lakukan ibadah harta berupa zakat, infak, dan sedekah. Allah Swt menjamin, harta yang diinfakkan akan berkah dan tidak akan berkurang, justru bertambah dengan keberkahan.

Selain itu, penyembelihan hewan kurban mengandung pesan agar kita "menyembelih" pula sifat-sifat hewaniyah (kebinatangan) --perangai buruk laksana hewan seperti rakus, angkuh, pelit, "cuek", tak tahu malu-- dalam diri kita. Ia pun mengajarkan semangat "share and care", berbagi dan peduli, terhadap sesama. Wallahu a’lam. (Mel/ddhongkong.org).*

Read More »
1:38 AM | 0 comments